Menggugah Kiprah Politik Perempuan

Politik dianggap identik dengan permainan kotor yang menghalalkan segala cara, mengesampingkan nurani. Tapi berbeda bila perempuan turun ke kancah politik, demikian tutur Dwi Ria Latifa.

Ria, demikian ia dipanggil, mengklaim bangga dengan menjadi politikus yang bersih. Prinsip yang diembannya membuatnya bersikap begitu. Selain itu baginya perempuan dalam berpolitik mempunyai keunikan sendiri. Ketika mereka melakukan sesuatu, mereka akan bekerja lebih tekun, tegas, dan menggunakan nurani.

Berpolitik dengan Nurani

Berpolitik dengan Nurani

Kisah hidupnya dalam berpolitik tertuang dalam ‘catatan kecil’ hasil olahan kata Alberthiene Endah berjudul “Dwi Ria Latifa: Berpolitik dengan Nurani”. Buku tersebut menceritakan karir Ria sejak masih menjadi pengacara hingga duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ria tak mau menyebut buku tersebut sebagai biografi, meskipun sebagian besar mengisahkan alur kehidupannya sejak kecil hingga sekarang ini. Kesan-kesan berat dijauhkannya, sehingga dia berani menjanjikan buku ini sebagai bacaan ringan. Sebagaimana ungkapan Alberthiene,” Para perempuan yang biasanya antipasti dengan politik, sambil leyeh-leyeh di sofa bisa baca buku politik.”

Bagi Alberthiene, buku ini bukan seperti buku politik kebanyakan. Di sini tidak ada ‘bahasa dewa’ yang biasa dilontarkan kaum politikus ketika berbicara kepada lawan bicaranya. Gagasan membuat buku semacam ini mulai dilaksanakannya setelah dihubungi Ria pada Februari 2004. Kedekatannya dengan Ria lantaran mereka bersahabay sejak 1999. Buku lain yang berhasil ditelurkannya antara lain perjalanan hidup Krisdayanti berjudul Seribu Satu KD, biografi Raam Punjabi, serta novel Jangan Beri Aku Narkoba dan Lajang Kota.

Garap Sisi Emosional
Alberthiene menuturkan buku ini menurutnya lebih humanis, menceritakan sisi-sisi emosional alur kehidupan dan karir Ria dari praktisi hukum yang menangani kasus kecil hingga kasus politik yang kemudian membuatnya terjun ke dunia politik.

Tak berbeda dengan penulis, sang editor, Aryo Bimo Nusantara pun turut menyuarakan pendapatnya. Menurut Aryo, buku ini bisa dijadikan bahan pembelajaran politik. Aryo, yang tidak pernah bertemu dengan Ria selama pengerjaan buku, kagum dengan Ria yang dinilainya tegar seperti batu karang.

Kasus-kasus yang dituturkan Ria menarik perhatiannya. Satu yang memikatnya adalah ketika Ria terlibat dalam kasus penculikan bayi. Ria sebagai kuasa hukum secara pribadi menginvestigasi sebuah rumah yang diduga terlibat dengan kasus itu. Ibarat detektif, Ria kala itu mendatangi rumah yang tak seorang pun berani mendekatinya karena memajang foto seorang pejabat militer. Banyak lagi kasus menarik lainnya termasuk keterlibatan Ria sebagai kuasa hukum Senno Bella dalam penyelesaian kasus 27 Juli.

Tak ketinggalan juga kisahnya mendampingi Mochtar Pakpahan dan Xanana Gusmao. Hubungan Ria dengan mitra hukumnya yang terbina cukup baik memudahkannya mendapatkan kata sambutan khusus yang ditulis Presiden Timor Leste itu sebagai pengantar dalam bukunya.

Sejauh ini Ria memandang pengalaman karirnya mengalir begitu saja seperti air. Awalnya memang dia agak antipasti terhadap politik, bahkan sekadar berpikir tentang itu. Namun rupanya takdir berkehendak lain, perjalanan hidup membawanya ke dunia politik.
Menjadi anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia membawanya berkenalan dekat dengan Megawati Soekarnoputri. Mega pun kemudian mempercayai Ria untuk menggantikannya sebagai anggota MPR/DPR RI Fraksi PDI Perjuangan pada 2000. Dari sanalah dia tergugah untuk mengubah pandangan perempuan terhadap politik, sebagaimana yang dimilikinya dulu. Keinginan sederhana darinya bahwa perempuan perlu berubah, tidak bersikap antipasti terhadap politik. Kehadiran buku ini dia harapkan bisa menumbuhkan keyakinan perempuan dalam berpolitik.

Para perempuan, tuturnya, hanya perlu mendengarkan, menggunakan nurani dalam membela orang lain yang membutuhkan. Kehadiran perempuan dalam berpolitik saat ini dinilainya masih minim. Bilapun ada itu hanya segelintir, di DPR saja sekarang baru 11%. Ria pun terus terang kurang menyukai sikap sebagian kaumnya yang klemar-klemer, atau tak jarang menggunakan perbedaan fisik sebagai dalih. Hal ini dianggapnya justru sering membuat kaumnya direndahkan oleh kaum pria.

Ria memang keras bahkan terhadap dirinya sendiri. Pernah suatu ketika dia membiarkan dirinya mengikuti siding paripurna dalam kondisi hamil tua, anaknya yang kedua. Kala itu tak disadarinya sudah timbul flek dan bukaan kedua.
Dia mengaku tak banyak dibatasi suami. Walau sering bersilang pendapat, terutama perihal perbedaan pilihan presiden, suami selalu mendukung aktivitasnya. Itu besar artinya bagi Ria. Dia berharap bukunya bisa menepiskan anggapan masyarakat tentang DPR yang busuk. “Tidak semuanya busuk, masih banyak yang kerja benar-benar. Ya memang 30%-40% bisa dikatakan begitu, tapi tidak semuanya.”

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Rabu, 14 Juli 2004. Ditulis hanya dari hasil liputan konferensi pers peluncuran buku Dwi Ria Latifa: Berpolitik dengan Nurani.

Menggugah kiprah politik

Menggugah kiprah politik

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s