Janji itu akhirnya terpenuhi

Sepeda kenangan

Sepeda kenangan ©Endang Muchtar

Asam di gunung, ikan di laut bertemu di kuali. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pertemuan antara Ciputra dan Dian Sumeler di usia muda dulu. Ciputra berasal dari Gorontalo, sementara Dian dari Tondano. Keduanya bertemu di Manado ketika sama-sama merantau untuk menempuh pendidikan.

Kala itu, kamu muda-mudi terbiasa menghabiskan waktu dengan bersepeda mengelilingi kota di sore hari. Begitu pula halnya dengan Ciputra dan Dian. Dian yang berambut ikal bersepeda bersama seorang teman wanitanya. Lalu keduanya bertemu dan berkenalan dengan dua orang pemuda yang juga bersepeda. Dari sanalah Dian bertemu dengan Ciputra, yang berlanjut dengan dimulainya jalinan tali kasih.

Kisah kasih di antara mereka kemudian harus berlangsung long distance. Seusai menjalani pendidikan [sekolah menengah], keduanya terpisah jauh. Ciputra melanjutkan pendidikan di ITB [Institut Teknologi Bandung], sedangkan Dian menimba ilmu di sekolah apoteker di Surabaya.

Jarak yang jauh rupanya tidak menyurutkan perasaan kasih mereka. Keyakinan pada diri Ciputra semakin bulat. Dia merasa Dian adalah gadis yang tepat untuk menemaninya hingga akhir hayatnya. Maka dia pun dengan berani mempersunting Dian walau statusnya kala itu masih mahasiswa miskin.

Keduanya menikah di Bandung pada 6 Juli 1954. Ciputra yang akrab dipanggil Pak Ci mengisahkan pernikahan yang sederhana itu, “Tanpa pesta, bahkan saya harus naik sepeda ke restoran,” katanya mengenang. Kesulitan ekonomi yang mereka alami membakar semangat Pak Ci. Dia berjanji kepada Dian untuk membuat pesta meriah suatu hari nanti.

Kini 50 tahun kemudian, janji itu terpenuhi. Sebuah pesta meriah yang dihadiri sanak family, para pejabat, duta besar, mantan menteri, direktur bank, dan kalangan pengusaha. Pada pesta Sabtu malam lalu, Pak Ci mengutarakan perasaan cinta dan rasa terima kasihnya kepada sang istri. “Kamu yang paling kucintai, tak ada yang lain selain engkau dan kau tahu itu. Terima kasih kau telah menemaniku hingga kini.”

Begawan properti ini memiliki kegemaran berdansa. Setiap malam minggu dia selalu menyempatkan diri untuk bisa berduaan dan berdansa dengan sang istri. Bagi Dian, itu hal yang tidak biasa dilakukannya. Apalagi setelah ada anak-anak, mau tak mau bila bepergian mereka juga dibawa.

Kini Pak Ci boleh berbangga, sepeda kumbang tua yang menjadi harta pertamanya telah berkembang menjadi puluhan proyek properti di dalam dan luar negeri. Berbagai gedung perkantoran, perumahan, dan sekolah tersebar di mana-mana.

Saksi bisu bersejarah yang biasa mereka tumpangi berdua melalui jalan-jalan kenangan akan tetap membisu, namun Pak Ci akan terus berkarya membangun negeri ini. Sukses buat Pak Ci dan keluarga!

* Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia pada Senin, 26 Juli 2004.

Janji itu terpenuhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s