Semsar masih seperti yang dulu

Semsar Siahaan kembali ke Tanah Air setelah lebih dari lima tahun tinggal di Kanada. Seniman yang dulunya sering melukis banner, poster, ilustrasi dan baliho untuk keperluan unjuk rasa itu menggelar pameran di Galeri Nasional, Jakarta. Dalam pameran bertajuk The Shade of Northern Lights itu, Semsar menggelar sebagian dari 100 karya yang dia hasilkan di Kanada. Menurut dia, sebagian dari sejumlah karya instalasi serta puluhan lukisannya yang beraliran surealis realis itu banyak yang telah dia jual maupun diberikan ke sejumlah kenalan sebagai hadiah.

Salah satu lukisan Semsar Homage to Christo’s Mother menjadi milik The Singapore Art Museum. Namun, ada juga dua karyanya yang telah berpindah tangan masih ikut dipajang dalam pameran ini yaitu The Spring Full Moon 1 milik Todung Mulya Lubis dan Sebuah Potret Diri Michael Bodden.

Dia bukan saja produktif di negara berbendera daun maple itu. Dia pun aktif mempublikasikan karyanya. Selama lima tahun tiga bulan dia telah mengadakan empat kali pameran tunggal dan lima kali pameran gabungan bersama dengan seniman lokal.

Semsar mengatakan produktivitasnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang terjadi di negara yang dekat dengan Kutub Utara itu. Sebagai anggota kelompok G-8, Kanada ternyata masih harus menghidupi sejumlah besar manusia tanpa rumah, yang terpinggirkan dan harus mengais-ngais tong sampah untuk menyambung hidup.

Menilik hasil karyanya, maka kita bisa melihat Semsar tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Dia masih mengangkat isu-isu global, kemanusiaan, lingkungan hidup, dan HAM dalam sapuan kuasnya. Tengok saja lukisan yang berjudul Measuring Beauty (2002). Di sana dia bercerita tentang kloning, pabrik senjata, dan kondisi kemanusiaan sekaligus mengungkap pandangannya tentang keindahan.

Atau dalam dua karyanya yang menggambarkan tragedy di Illaho Valley. Pada lukisan pertama bertajuk The Death of An Ancestor, Semsar memperlihatkan ‘pembunuhan’ terhadap sekelompok Indian dengan cara penebangan hutan di Illaho Valley. Bagi kaum Indian, pohon adalah makhluk hidup yang mempunyai ruh layaknya nenek moyang mereka. Karena itu, penebangan pohon secara tidak langsung telah membunuh nenek moyang mereka.

Imaji seorang ibu
Semsar melukiskan peristiwa itu dengan meletakkan imaji seorang ibu yang mendekap seorang anak pada gelondongan kayu. Tak jauh dari kayu, seekor rusa kutub bersama tiga orang meratapinya.

Pada penggambaran tragedy Illaho Valley lainnya, Semsar mengusung tema kematian seorang pembela lingkungan yang mati tak jauh dari kayu gelondongan dalam The Eco Defender. Darah dari kepala aktivis lingkungan itu membanjiri tanah di bawahnya.

Kepedulian Semsar kepada sesama aktivis juga tertuangkan dalam Genoa Tragedy 1; 2; dan 3. Melalui tiga lukisan seri ini Semsar mencoba mengulas penembakan aparat terhadap Julian, seorang aktivis anti globalisasi korporatisme yang berunjuk rasa di Genoa, Italia, menentang pertemuan pemimpin G-8 yang digelar di kota itu.

Lukisan Semsar tidak melulu memperlihatkan keprihatinan. Dia juga menunjukkan keindahan, walau tidak dengan cara yang umum dipakai pelukis lain. Sosok wanita dengan dua wajah yang berlainan arah dalam Double Portrait (Portrait of Nicole M.B.) memunculkan pertanyaan di benak yang melihatnya. Siapa wanita special itu? Di tengah kesuraman yang tampak dari keseluruhan karya Semsar sosoknya begitu menonjol.
Rupanya, Nicole adalah wanita yang dikaguminya. Kendati demikian Semsar tak pernah mengobrol atau menghabiskan waktu bersamanya. Kekagumannya hanya platonik semata.

Bila anda berkunjung ke pameran Semsar, dengan cepat pasti anda dapat menebak dengan tepat karya mana yang menjadi ‘bintang’ dalam pameran itu. Tak lain karya monumental Semsar berupa proyek instalasi yang bertema G-8 Pizza dan The Study of the Falling Man.

Semsar mendaur ulang sejumlah kardus bekas pembungkus makanan dan kardus sepatu yang ditemukannya di tempat sampah menjadi karya seni. Kardus itu dia gabungkan hingga membentuk gambaran pizza dan the falling man. G-8 pizza berdiameter 400 cm menjadi tokoh dominan. Tidak saja besar tapi delapan potong pizza yang setiap potongannya merepresentasikan pemimpin negara anggota kelompok G-8 itu menggambarkan kegelisahan Semsar terhadap eksistensi imperialism modern.

Berdiri di antara dua karya instalasi tersebut membuat kita menghadapi dilema. Memunggungi G-8 Pizza berarti anda akan melihat the falling man. Sebaliknya bila anda berdiri menghadapi the falling man anda otomatis akan mengabaikan G-8. Sebuah keputusan yang memberikan konsekuensi yang sama tidak enaknya, ibarat makan buah simalakama.

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Rabu, 25 Agustus 2004.
Semsar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s