Perjalanan Agian Masih Panjang

Agian ©Antara

Agian ©Antara

Agian Isna Nauli. Nama ibu beranak dua asal Bogor itu sempat ‘naik daun’ setelah suaminya Hasan Kesuma, 33, memohonkan euthanasia (suntik mati) untuknya atas nama cinta kasih.
Hasan sudah tak kuasa menghadapi kondisi Agian, 33, yang terbaring tidak berdaya semenjak melahirkan anak kedua mereka Ditya Putra Mardika di Rumah Sakit Islam Bogor pada 21 Juli 2004. Belum lagi beban tagihan rumah sakit yang hari demi hari kian menggunung.

Penyokong hidup Agian memang mahal. Sekarang saja harga kamar VIP di Unit Pelayanan Khusus Stroke Soepardjo Roestam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang ditempatinya memakan biaya Rp400.000 per malam. Itu belum termasuk biaya obat-obatan yang berfungsi untuk melancarkan aliran darah ke otak yang harus dikonsumsi Agian.

Hasan juga mengkhawatirkan pertumbuhan kedua anaknya yang kerap harus ditinggal bila dia menjenguk ibu mereka. Namun sayangnya ibu mereka tidak sadarkan diri dalam tempo yang tidak bisa dipastikan. Berdasarkan hal tersebut, Hasan pun mengajukan euthanasia pada istrinya melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Permintaan itu tentu saja membuat gempar. Selain tidak lazim, karena menyangkut nyawa manusia maka tidak dihalalkan di negeri ini. Kontan sang hakim menolak usulan itu, karena siapa pun berhak untuk hidup di dunia ini, termasuk Agian. Meskipun selama berbulan-bulan kondisinya bagaikan hidup segan mati tak mau.

Kontroversi melebar demi merespon usulan suntik mati itu. Berbagai simpati berdatangan. Dunia medis tak ketinggalan diberondong pertanyaan seputar layak tidaknya tindakan itu dilakukan, pernah atau tidak dokter melegalkan suntik pencabut nyawa itu kepada pasiennya.

Sementara Hasan tetap bersikeras pada keinginannya. Dia bahkan sempat ingin mengajukan banding. Hasan juga menuntut para dokter dan rumah sakit, yang menangani Agian semenjak hamil dengan tuduhan malpraktik. Namun hingga kini isu itu masih simpang siur, tidak ada kejelasan yang berarti. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang sudah dua kali menjenguk Agian juga membantah tuduhan itu. “Kami belum tahu apakah ini malpraktik atau bukan,” urainya saat pertama kali menjenguk Agian (Bisnis, 11 November 2004).

Syukurlah euthanasia itu tidak terlaksana karena sudah beberapa hari ini Agian tersadar dari komanya. Dengan selang terpasang dihidungnya, dia juga sudah bisa bercakap-cakap. Meski harus dipancing terlebih dahulu agar mau bicara. Ucapannya pun terputus-putus. Suaranya masih terdengar janggal, mungkin lidahnya kelu setelah sekian lama tidak digunakan.

Kedua tangannya masih mengepal kaku, sehingga terpaksa dijejali botol plastik agar tidak mencengkeram seperti kondisinya saat koma. Kakinya pun sudah dapat digerakkan, meski masih membutuhkan sejumlah latihan dari fisioterapis untuk melemaskan otot-ototnya agar dapat berfungsi seperti sedia kala.

Kemajuan pesat
Secara umum kondisi Agian baik. Bahkan menurut Prof Jusuf Misbach, Kepala Paviliun Soepardjo Roestam yang juga sekaligus ketua tim penanggungjawab medis untuk Agian, kemajuan yang dicapai penyuka jengkol dan terjun payung itu amat pesat.

“Agian tidak saja sadar dari koma, tetapi juga dapat bercakap-cakap serta mampu mengingat banyak hal termasuk yang terjadi pada saat dia koma. Kemampuannya mengingat melampaui ekspektasi. Dia juga sadar lebih cepat dari prediksi semula yakni satu tahun,” ujarnya.

Saat Bisnis menjenguk Agian dan berdua saja di kamar nomor tiga, dia sedang kesal karena sulit sekali untuk buang hajat. Dia berteriak-teriak minta tolong memanggil ibunya.

“Mama…aduh duh sakiiit,” serunya berulang-ulang seperti anak kecil.

Sayangnya, keadaan Agian yang kian membaik tidak mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Padahal, kata Jusuf, Agian sebaiknya dibawa pulang dan dirawat oleh keluarga. Hal itu akan lebih cepat memulihkan kondisinya karena kasih saying keluarga adalah dorongan terbesar bagi kesembuhannya.

Dua perempuan yang senantiasa menungguinya justru bukan keluarga dekat. Mereka adalah relawan dari Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan. Menurut perawat RSCM, Hasan sudah jarang terlihat menunggui Agian sejak dua bulan belakangan ini.

Menurut penjelasan Kepala Divisi Obat, Makanan/Minuman LBH Kesehatan R. Aulia Taswin, Hasan tidak tampak di RSCM karena sedang bertugas menjadi coordinator relawan dari lembaga itu di Aceh. Tugas itu diemban Hasan karena sejak beberapa bulan ini dia diangkat menjadi Sekjen Persatuan Korban Kesehatan, salah satu kelompok bentukan LBH Kesehatan.

Sebelum berangkat ke Aceh, menurut Taswin, Hasan juga sedang mendapatkan proyek di Jambi sehingga tidak ada di Jakarta. Dia menilai ketidakhadiran Hasan di RSCM untuk menunggui Agian bukan berarti dia membiarkan isterinya. Bagi Taswin, kualitas bertemu lebih penting ketimbang kuantitas. “Hasan (ketika Agian sadar) menelepon beberapa kali dalam sehari,” ujar relawan dari LBH Kesehatan.

Lepas dari kontroversi menyangkut hal itu, yang jelas Agian amat membutuhkan perhatian dari orang dekatnya—terutama suami dan anak-anaknya. Dan perjalanan Agian menuju kepulihan seperti semula masih butuh dana dan waktu yang panjang.

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Rabu, 12 Januari 2005.

Perjalanan Agian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s