Sebuah resep ala Jepang: Trialog budaya-budaya besar

Bagaimana masyarakat Jepang menempatkan diri di tengah globalisasi? Bagaimana pula pandangan bangsa itu terhadap Islam, peristiwa nine eleven, dan masa depan peradaban manusia secara umum?

Pandangan Jepang senantiasa menarik untuk ditelaah, bukan hanya karena negara itu paling makmur di Asia dari segi ekonomi—sejajar dengan bangsa-bangsa Barat—tetapi juga karena masyarakatnya dikenal mampu mempertahankan tradisi budaya di tengah derasnya tekanan modernisasi.

Dalam kaca mata Yasushi Kosugi, pakar perbandingan politik dan kajian Islam dari Universitas Kyoto, keunikan Jepang terletak pada tradisi bangsa itu dalam mempelajari peradaban dunia. Namun demikian mereka tidak larut begitu saja dalam arus globalisasi.

Coba saja lihat gaya para pebisnis Jepang. Meski mengenakan setelan kemeja dengan jas dan dasi ala Barat, mereka tetap tampil dengan karakter bangsanya. Mereka tidak serta merta menjiplak budaya di balik gaya berbusana Barat itu.

Bagi Kosugi, gaya berpakaian hanyalah transformasi orang Jepang agar sama dengan warga dunia, yang berjas dan berdasi. Kendati demikian, perubahan fisik tersebut tidak mengubah keyakinan serta tradisi budaya yang tetap mereka junjung tinggi.

Hal itu dia sampaikan saat berceramah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan tajuk Globalization and Islamic Civilization in the 21th Century: A Japanese Perspective.

Lalu bagaimana orang Jepang menyikapi benturan antara peradaban Islam dan Barat? Orang Jepang, menurut dia, memahami Islam lebih baik dibandingkan dengan bangsa Barat. Mungkin karena itu, Kosugi menilai bangsa Jepang seharusnya dapat berperan sebagai penghubung antara bangsa Barat dan Islam.

Kosugi yang mempelajari bahasa Arab di Universitas Tokyo dan juga lulusan Fakultas Kajian Islam (Usul al-Din) di Universitas Al Azhar, Mesir, itu menganggap Islam sebagai salah satu peradaban terbesar dunia.

Sayangnya, kata dia, kajian terhadap Islam dan peradabannya masih kurang sehingga perbenturan kerap terjadi, terlebih setelah tragedi 11 September atau yang terkenal dengan sebutan 9/11. Dalam peristiwa itu, menara kembar World Trade Center di New York, salah satu lambang supremasi ekonomi AS rontok dihantam pesawat.

Tak ada yang dapat mengimbangi ketika Amerika Serikat, sebagai kekuatan hegemon satu-satunya di dunia, bereaksi terhadap peristiwa tersebut. Maka terjadilah invasi bersenjata AS ke Afganishtan dan Irak atas nama perang terhadap terorisme.

Budaya Barbar
Jalan kekerasan yang dipilih oleh Washington itu seketika mengubah dunia menjadi tempat yang tidak aman lagi. Perang, yang disebut Kosugi sebagai budaya barbar, tidak saja membahayakan manusia tetapi juga mengancam peradaban.

Lebih jauh guru besar studi Islam dunia dan Direktur Studi Kawasan Asia Selatan dan Barat di Graduate School of Asian and African Area Studies itu melihat dunia ini terbentuk dari sejumlah katalog peradaban, antara lain Islam, Hindu, China, dan Barat, yang masing-masing telah membangun system peradaban yang mapan.

Dunia, kata dia, dapat membangun peradaban baru yang lebih baik dengan menggabungkan kebijakan-kebijakan yang bersumber dari berbagai peradaban tersebut. Salah satu caranya adalah lewat dialog antara Islam, Barat, dan peradaban lain di luar keduanya. Dia mengharapkan trialog tersebut dapat menghasilkan suatu masyarakat global yang senantiasa hidup di dalam perdamaian. Kalau memang demikian seharusnya dunia dipahami, tak salah kalau kita berharap bangsa Jepang mau mengambil inisiatif untuk menghidupkan trialog semacam itu.

* Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 22 Januari 2005.

Trialog Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s