Akankah AS Mengulang Sejarah? (2)

Ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan.

Pergeseran patokan yuan terhadap dolar AS dan perubahan sistem pertukaran mengambang terkendali atas mata uang keranjang menunjukkan sikap China yang rela mengabulkan keinginan berbagai pihak. Menyenangkan mereka yang kontra tanpa mengabaikan kepentingan stake holder negaranya sendiri.

Kendati Beijing berkilah dengan menyebut langkah revaluasi itu untuk mendorong ekonomi negara itu, tidak dapat dipungkiri salah satu alasan China melakukan itu karena jengah dengan berbagai desakan yang banyak disponsori oleh AS.

AS selalu menganggap pematokan yuan selama satu dekade itu telah mengakibatkan ketimpangan global sehingga Negeri Paman Sam itu didera defisit perdagangan senilai US$617 miliar pada 2004. Yuan dinilai terlalu rendah sehingga memberi keuntungan yang tidak adil bagi eksportir China. Komoditi ekspor China menjadi lebih bersaing dengan nilai reminbi yang murah.

Karenanya Washington mengancam kalau yuan tidak direvaluasi, AS akan mengenakan bea 27,5% pada produk China yang masuk ke negara itu.

Tidak berhenti di situ, AS terus melancarkan berbagai ‘serangan’ untuk menjegal China dalam menggapai impiannya.

UU Energi yang telah direstui Kongres dikabarkan pula sebagai salah satu upaya menjegal rencana akuisisi perusahaan minyak China CNOOC Ltd terhadap perusahaan minyak AS Unocal Corp. Boleh jadi kuatnya desakan politisi menyebabkan China National Offshore Oil Company menarik diri atas tawarannya terhadap Unocal kemarin.

Sebuah skenario yang bergulir menyatakan apresiasi yuan akan membantu mengurangi defisit perdagangan AS. Apresiasi sebesar 10% dan 20% masing-masing akan memangkas defisit sebesar US$3,62 miliar dan US$7,87 miliar.

Namun satu hal yang mungkin luput dari pertimbangan AS adalah ketika yuan direvaluasi lebih tinggi pada kisaran yang telah disebutkan di atas. Bukan saja akan memangkas defisit perdagangan AS tetapi juga semakin memudahkan China dalam merajai dunia berkat kemampuan daya beli yang lebih besar. Apresiasi yuan yang lebh besar malah mempercepat proses itu.

Atau sejarah akan terulang kembali. Ketika AS menghalau Jepang membeli sejumlah perusahaan AS pada 1980-an, Jepang banting setir dengan menyebarkan ‘telurnya’ ke berbagai ‘keranjang’ yang tersebar di seluruh dunia. Alhasil hal itu membawa Jepang menjadi negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS.

Namun melihat peta perekonomian China sekarang ini, bila AS ingin mengulang sejarah bukan tidak mungkin ‘benteng’ yang dibangunnya justru dengan mudah menghantarkan China menjadi nomor satu. Dengan begitu ungkapan bekas pemimpin China Mao Zedong yang mengatakan China is using West to get their goals (China memanfaatkan Barat untuk menggapai tujuannya) niscaya terbukti.

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Kamis, 4 Agustus 2005.

Akankah AS 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s