Menunggu Perubahan di Jerman

Setidaknya dari sekian pemilu yang terjadi pada bulan ini, ada dua yang paling menarik perhatian warga dunia yaitu pemilu di Jepang dan Jerman.
Bila pada pekan sebelumnya pemilu Jepang berhasil memberi suara mayoritas untuk mendorong perubahan, pemilu Jerman justru gagal meraih hal serupa. Pasalnya dua partai besar yang berkompetisi tidak berhasil meraih suara mayoritas.

Kanselir Jerman Gerhard Fritz Kurt Schroeder, seperti prediksi banyak kalangan, tak mampu lagi merebut hati pemilih. Pemilih pesimistis dengan kondisi perekonomian yang terus memburuk dari hari ke hari.

Hal terburuk yang menghantui benak mereka adalah jumlah pengangguran yang sempat menyentuh rekor pascaperang dunia kedua, yakni 12% pada Maret atau 5 juta orang pada Februari.

Tanpa perubahan signifikan selama tujuh tahun menjabat, pemilih pun meragukan kapasitas Schroeder dalam membawa negara berkekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia itu keluar dari kemelut ekonomi.

Di lain pihak, langkah sang lawan Angela Dorothea Merkel dari Partai Uni Demokrat Kristen (Christian Democratic Union/CDU) juga tidak berjalan mulus. Meskipun Angie—panggilan akrab Merkel yang selalu didengungkan saat kampanye—mendapat banyak dukungan dari pebisnis dan pelaku pasar, namun belum cukup kuat untuk meraih kemenangan.

Pemilu dini yang digelar Schroeder pada 18 September lalu memberi Merkel 35,2% suara atau 225 kursi dalam parlemen. Angka ini hanya selisih tiga suara lebih tinggi dibanding Partai Sosial Demokrat (Sozial Demokratische Partei Deutschlands/SPD) pimpinan Schroeder yang memperoleh 222 kursi (34,3%) dari total 613 kursi di parlemen rendah.

FDP, mitra koalisi CDU mendapat 9,8% suara. Sedangkan Partai Hijau, mitra koalisi SPD, meraih 8,1%. Dengan perolehan suara minim dari mitra koalisi dan kemenangan yang boleh dibilang seri, terbuka opsi untuk menyatukan SPD dan CDU. Namun, baik Merkel maupun Schroeder menolak gagasan untuk membentuk koalisi besar (grand coalition). Persoalan pribadi maupun usulan agenda yang mereka ajukan terlalu jauh berbeda.

Secara de facto, Merkel sebenarnya bisa jauh lebih unggul dari lawannya. Ini karena 11 dari 16 kepala pemerintahan yang duduk mewakili negara bagian di Bundesrat (parlemen tinggi Jerman) berasal dari partai konservatif, sama seperti CDU.

Sedang dari hasil jajak pendapat, Merkel juga cukup memikat. Sejak permulaan kampanye pada Mei, partainya unggul sebanyak 17% dibanding SPD. Namun belakangan, khususnya menjelang pemilu, angka itu melorot jauh sehingga perolehan suara kedua partai besar hanya beda tipis. Ini karena pemilih ketakutan terhadap agenda usulan Merkel.

Usulan Perubahan
Bagi pemilih, momok paling menakutkan dalam agenda yang diusung Merkel adalah pengurangan jaminan untuk pengangguran dari 6,5% menjadi 4,5%. Ini tentu saja mengancam kehidupan sosial yang selama ini mereka jalani.

Merkel juga ingin memotong kontribusi perusahaan ke sistem kesejahteraan dan mendanai pengurangan itu dengan menaikkan pajak pertambahan nilai menjadi 18% dari semula 16% pada Januari 2006.

Dia ingin pula mengurangi kekuasaan serikat pekerja dalam menegosiasikan upah di perusahaan. Selama ini serikat pekerja di Jerman punya kekuatan besar untuk mendongkrak tingkat upah, yang menyulitkna para pengusaha dalam melakukan efisiensi agar dapat bersaing dengan lawan main baru seperti China dan India.

“Kuatnya lobi serikat pekerja menyebabkan upah yang tidak fleksibel dan cenderung naik sehingga menyebabkan naiknya biaya upah bagi perusahaan. Sebagai akibatnya, hanya sedikit pekerja yang mampu diserap oleh industri,” tulis Ahmad Helmy Fuady, peneliti ekonomi regional Eropa di LIPI, dalam surat elektroniknya dari Canberra, Australia, kepada Bisnis.

Upah pekerja Jerman sebesar 27,60 euro ($33,72) per jam merupakan yang tertinggi kedua di dunia setelah Denmark. Institut ekonomi IW yang berbasis di Cologne, Prancis, dalam laporannya bahkan menyatakan biaya pekerja Jerman Barat enam kali lebih tinggi dibanding upah orang Polandia dan Hongaria, atau 22 kali lebih tinggi dibanding pekerja asal China.

Persoalan upah ini mengundang banyak pekerja gelap memasuki kawasan itu. Sejumlah perusahaan juga mulai melirik negara tetangga untuk mendirikan pabrik di sana. Sebagai contoh MAN AG akan membangun pabrik baru di Polandia dan akan mempekerjakan 650 pegawai. Sedang perusahaan lain seperti Siemens AG, DaimlerChrysler AG, Volkswagen AG, dan General Motors Corp unit Jerman mulai berencana mengurangi pegawai.

Helmy menambahkan masalah yang cukup krusial bagi Jerman adalah tentang sistem jaminan sosial yang dipakai. “Dengan perekonomian yang bergerak lamban, sulit bagi Jerman membiayai sistem jaminan sosial yang ada.”

Dari pendapatan pajak sebesar 190 miliar euro, 80 miliar euro dialirkan ke sistem pensiun negara, 30 miliar euro masuk ke kantong pengangguran, dan 40% miliar euro masuk ke bank untuk melayani utang perbankan. Sisanya tidak cukup untuk membayar birokrasi dan membangun jalan. Kredit baru pun diperlukan untuk menjaga penampilan Jerman sebagai negara makmur.

Sementara itu, tingkat kelahiran merosot hingga separuh dari awal 1960-an. Akibatnya jumlah angkatan kerja anjlok tinggal separuhnya saja. Dengan demikian satu orang pekerja di masa yang akan datang bakal menanggung dua orang pensiunan. Ini terlalu berat bagi pekerja maupun negara.

“Jika tidak ada perubahan, pemerintah butuh 80% dari anggaran negara pada 2050 hanya untuk mendanai pensiun,” tulis Gabor Steingart, kepala biro Der Spiegel Berlin, dalam Asian Wall Street Journal.

Sayangnya pemilih terlalu takut membuat perubahan. Tidak adanya suara mayoritas dalam parlemen mengindikasikan stagnasi pasca unifikasi masih akan berlanjut di Jerman. Semoga saja Pemilu di Dresden pada 2 Oktober mendatang mengubah prospek ekonomi Jerman yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2006.

* Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi September 2005.

Perubahan di Jerman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s