Mengelola konflik dengan game-theory

Pekan lalu Royal Swedish Academy of Science menganugerahkan penghargaan nobel 2005 dalam bidang ekonomi kepada Robert J. Aumann dan Thomas C. Schelling. Inilah kali kedua dimana Akademi memberi penghargaan kepada para ahli teori permainan (game-theory). Sebelumnya pada 1994, nobel serupa jatuh ke tangan John Harsanyi, John Forbes Nash Jr., dan Reinhard Selten.

Kehidupan pakar matematika John Nash Jr bahkan sempat digambarkan dalam film berjudul A Beautiful Mind. Film yang selama sebelas pekan berturut-turut sejak dirilis tetap berada dalam urutan sepuluh box office di AS.

Untuk tahun ini, Akademi menilai Aumann, 75, dan Schelling, 84, layak menerima 10 juta krona Swedia (sekitar Rp13 miliar), berkat karyanya yang berhasil menambah pemahaman tentang konflik dan kerja sama melalui analisis teori permainan.

Teori permainan adalah ilmu strategi yang berupaya menentukan tindakan bagi para pemain yang berbeda—misalnya para mitra dagang, karyawan, serikat kerja, atau bahkan kelompok kejahatan terorganisir sekalipun—dalam meraih tujuan terbaik mereka.

Karya kedua ilmuwan ini dianggap membantu menjelaskan dan memecahkan konflik bisnis maupun perdagangan, berguna dalam kebijakan keamanan dan pelucutan senjata, pembentukan harga pasar, dan juga negosiasi politik dan ekonomi. Karena itu karya mereka dianggap berperan dalam menghindarkan terjadinya perang.

“Saya kira teori permainan menciptakan gagasan penting dalam mengadakan pendekatan dan menyelesaikan konflik secara umum,” tutur Aumann yang berbicara melalui sambungan telepon dari Israel ketika upacara penganugerahan nobel.

Dia pun berharap beberapa teori tersebut berguna dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Kendati lahir di Frankfurt, Jerman, Aumann yang mengajar di Hebrew University of Jerusalem justru berkewarganegaraan AS dan Israel. Dia dikenal sebagai ahli teori permainan matematika teknis tinggi, yang kemudian masuk ke dalam ilmu ekonomi melalui teori permainan kerja sama (cooperative game-theory).

Dalam 40 tahun terakhir, dia getol menekuni ekonomi Neo Walrasian dan teori permainan. Kebanyak orang berpikir dia patut mendapatkan nobel pada 1994.

“Aumann menunjukkan interaksi sosial jangka panjang bisa dianalisis secara menyeluruh dengan menggunakan teori permainan non-kooperatif formal,” jelas Akademi.

Berbeda dengan Aumann, Schelling adalah seorang ilmuwan sosial sejati. Pemikiran pengajar di University of Maryland ini mengarah kepada pemahaman penting terhadap berbagai hal mulai dari perang nuklir, menentukan titik temu, kemacetan, hingga perbedaan ras. Keahliannya adalah memahami perilaku sejati manusia, dan teori permainan baginya hanyalah salah satu alat.

“Saya seorang pelajar di bidang kerja sama dan konflik. Saya bukan seorang ahli teori permainan sejati. Saya tidak akan berusaha keras untuk membuat kasus yang saya kerjakan menjadi sesuatu yang berkaitan dengan ekonomi,” kata Schelling merendah, saat ditelpon Reuters dari kediamannya di Maryland. Dia gembira karyanya diakui.

Situasi interaktif
David R. Henderson, professor ilmu ekonomi di Naval Postgraduate School, dalam Asian Wall Street Journal, menulis salah satu prinsip terpenting dalam teori permainan adalah jika seseorang ingin menangani situasi interaktif apapun dengan baik, maka orang itu harus menempatkan diri pada posisi lawan. Prinsip ini berlaku di dalam teori permainan dan juga kehidupan.

“Analogi Schelling yang lainnya adalah perbincangannya mengenai di mana anda bakal menemui seseorang. Jika anda berdua tahu akan bertemu di New York di hari tertentu, tetapi belum memikirkan tempat dan waktu bertemu. Hal ini mengarah ke konsep titik temu,” kata Henderson.

Untuk itu, seseorang perlu menempatkan diri pada posisi orang yang ingin ditemui. Dengannya diharapkan orang itu bisa menentukan kapan dan di mana tempat pertemuan yang dikehendaki lawan, sebagaimana yang diinginkannya pula.

Henderson mengatakan satu titik temu yang banyak orang pikirkan saat memainkan permainan Schelling adalah di bawah jam besar di Grand Central Station pada siang hari.

Pola berpikir komunikasi secara diam-diam seperti ini kemudian banyak dihubungkan dengan Schelling, sehingga titik temu sering diistilahkan sebagai ‘titik Schelling [Schelling point].”

Inti dari pemikiran Schelling adalah dengan permainan, latihan serta eksperimen pemikiran tidak selalu berarti sesuatu akan berhasil ataupun gagal. Namun penekanannya pada pemahaman seseorang terhadap perilaku interaktif kelompok. Perlu juga untuk melihat kapan hal itu berhasil sebagai keinginan/tujuan, atau malah kegagalan kelompok.

Schelling menunjukkan transaksi pertukaran, secara sederhana hanyalah bagian interaksi yang cenderung bekerja dengan baik karena para peserta saling bertukar barang tertentu secara sukarela ketimbang berinteraksi dengan cara yang lebih rumit. Kebanyakan masalah yang terjadi, menurut Schelling, karena terlalu sulit untuk mengadakan pertukaran.

Sekali lagi terbukti, dari kacamata manapun, pemahaman terhadap orang maupun kelompok lain dapat menghindarkan seseorang atau kelompok dari perselisihan. Hal yang sama juga dapat membawa seseorang pada kemenangan.

Beberapa abad yang lalu, strategi ilmu perang Sun Tzu telah mengajarkan kenali lawanmu atau mati di medan perang. Sementara di zaman sekarang, pebisnis terkemuka AS Donald Trump mengemukakan konsep serupa dalam berbisnis; meremehkan lawan berarti kekalahan. Tetapi sayangnya, teori permainan tak menjelaskan pengaruh faktor pemaksaan kehendak yang kerap berujung perang sebagai solusi akhir. Bukankah AS dan Israel lebih memilih perang sebagai jalan keluar suatu konflik?

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Kamis, 20 Oktober 2005.
game-theory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s