Semrawut Angkutan Jakarta

Saya masih tak habis pikir dengan aksi para supir metromini dan kernetnya. Ini hari kedua saya naik metromini dioper. Bukan hal yang baru memang, sudah sering, tapi ya itu ga habis pikir dengan tindakan mereka.

Ketika sedang asyik termenung di dalam bus kota, supir metromini yang saya tumpangi teriak-teriak memaki supir metromini lain bertrayek yang sama. Teriakannya mengusik pendengaran. Bukan cuma teriak, aksi saling kebut pun terjadi saat lampu lalu lintas berganti hijau. Tak lama supir metromini yang saya naiki menyerah dan menyuruh seluruh penumpang berpindah ke metromini yang dimakinya.

Anehnya, seluruh penumpang seperti kerbau dicucuk hidungnya menurut saja apa kata supir. Tidak ada perlawanan. Sepanjang pengalaman saya naik bus, yang berarti sudah ribuan kali, berani taruhan kurang dari lima kali ada kejadian penumpang berani berontak terhadap aksi supir yang mengoper ke bis lain.

Alhasil, penumpang lebih rela bangun dari tempat duduknya yang sudah nyaman untuk kemudian turun bis, dan pindah ke bis lain. Pada kebanyakan kasus, seperti yang saya alami kemarin dan hari ini dengan tiga kali operan, letak bis yang satu dengan yang lain saling berjauhan. Tak ayal semua penumpang harus berjalan selap-selip di antara padatnya lalu lintas seputar stasiun dan lintasan rel kereta Stasiun Senen untuk menyebrang jalan ke arah bis sasaran.

Status saya sebagai penumpang bus rutin dimulai ketika SMA (sebutan ini sebenarnya sudah ditiadakan pada masa itu, tapi untuk memudahkan penyebutan saya pakai SMA alih-alih SMU). Sejak saat itu, tidak ada perubahan yang berarti dalam pelayanan transportasi publik. Supir tetap ugal2an, ngetem seenaknya, kondisi mobil jelek, kotor, dan rusak sehingga sering bocor saat hujan deras. Satu hal yang pasti berubah hanyalah tarif atau ongkosnya. Seingatku dulu ongkos naik bis hanya Rp100 dan sekarang Rp2.000, naik 20 kali lipat tapi kelakuan supir tetap sama dan kondisi bis makin bobrok.

Dulu memang pernah ada masa ketika Pemda DKI Jakarta mewajibkan pengemudi bis memajang identitasnya di dashboard diikuti dengan embel-embel “Ada keluhan dengan pengemudi hubungi….” Pada awal penerapannya, pengemudi berlaku jaim dan hati-hati. Lama kelamaan karena tidak ada pengawasan yang berarti mereka kembali ke perilaku semula : ugal-ugalan.

Banyak orang mengeluh dengan gaya mengemudi supir metromini dan angkutan kota lain yang ugal-ugalan dan menjadikan Ibu Kota kian semrawut. Entah mengapa hal itu masih bertahan selama puluhan tahun.

Kapan ya Jakarta punya pengaturan lalu lintas yang tertib dan sarana angkutan yang bersih dan nyaman?

* Unggah pertama kali ke facebook notes 24 Oktober 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s