Menjaring investasi sampai ke negeri China

Pekan kedua bulan ini. Wartawan Bisnis Indonesia Pudji Lestari berkesempatan ikut dalam kunjungan kerja Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Irawan Wirjawan ke World Economic Forum on East Asia (WEFEA) di Ho Chi Minh City, Vietnam dan World Expo di Shanghai, China.

Trade Minister Mari Elka Pangestu and Chairman of Indonesia's Investment Coordinating Board Gita Irawan Wirjawan speaks at the World Economic Forum on East Asia in Ho Chi Minh City, June 7, 2010. ©Pudji Lestari

Dua kegiatan itu dijadikan sebagai ajang untuk mempromosikan berbagai peluang investasi di Indonesia. Berikut laporannya. Bagi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Irawan Wirjawan, China merupakan salah satu negara penting. Setidaknya, sejak menjabat sebagai kepala BKPM sekitar 6 bulan lalu, dia sudah mondar-mandir ke negara itu sebanyak tiga kali. Dalam kunjungannya ke China kali ini, World Expo yang digelar di Shanghai menjadi incaran Gita. Di sana, seperti biasa, dia menggelar sejumlah pertemuan dengan para pebisnis China.

Dalam kesempatan kali ini, Gita mempertemukan langsung pejabat pemerintah daerah Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Riau dengan para pebisnis China. Sejumlah proyek infrastruktur senilai triliunan rupiah pun ditawarkan dalam kesempatan itu. Selain proyek, Gita juga menawarkan bantuan langsungnya kepada para pebisnis asal China itu. Dia bersedia dihubungi langsung, apabila calon investor itu menemui kendala dalam pengurusan izin investasi. Pasalnya, kasus penipuan memang kerap terjadi dalam urusan penanaman modal. Imron Cotan, Duta Besar Indonesia untuk China, mengatakan pemodal asing, khususnya yang berasal dari China, biasanya mudah percaya pada perantara bisnis yang menghubungkan mereka dengan pemodal lokal. Alhasil, banyak yang tidak melakukan cek dan ricek seputar lokasi bisnis yang mereka incar.

“Kalau ada KP [konsesi pertambangan], seharusnya kan dilihat dulu ke lokasi ada benar atau tidak. Kalau tidak ada masalah mereka diam saja, tetapi kalau ada masalah baru lapor ke kami.” ujarnya mengomentari keluhan dari seorang pebisnis yang telah mengucurkan US$3 juta demi ambisinya berbisnis nikel di Sulawesi. Namun, hingga kini urusan perizinan belum juga jelas.

Deputi Ketua BKPM Darmawan Djayusman membenarkan. Menurut dia, terkadang ada salah kaprah. Banyak pebisnis mengira urusan investasi melalui kantor kedutaan atau konsulat jenderal dan BKPM akan menelan banyak biaya dan bertele-tele. “Padahal, kami gratiskan lho. Kami tinggal mempertemukan mereka dengan pengusaha daerah,” katanya sedikit berpromosi.

Selain urusan penipuan, hal lain yang membuat hubungan bisnis Indonesia-China masih belum mulus adalah adanya ketakutan perihal hubungan diplomatik politik kedua negara, yang pernah memburuk beberapa tahun silam. Hal ini pulalah yang sempat ditanyakan oleh jurnalis setempat kepada Gita. Masalah perjanjian perdagangan bebas Asean-China juga menjadi topik hangat yang ramai dibicarakan dalam pertemuan dengan para pebisnis China.

Untungnya, pertemuan itu berakhir dengan adanya minat dari sejumlah perusahaan China, sebut saja Shanghai Kaldi Metal Mining Co Ltd, SINOPEC Group, Petrixo Oil Gas, Metallurgy Corporation of China Overseas, dan China Harbour Engineering Company Ltd.

Kepastian berusaha
Bukan tidak beralasan pemerintah, melalui BKPM, membidik investasi dari pemodal China. Kendati belum menjadi negara penyumbang investasi terbesar bagi Indonesia, aliran investasi dari negara berpopulasi terbesar dunia itu menunjukkan tren positif. Sepanjang kuartal 1/2010, realisasi investasi dari pemodal China tercatat US$16,8 juta. Investasi asal negara itu berada di urutan ke-11.

Chris Kanter, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Investasi dan Perhubungan, mengakui China menjadi salah satu negara yang dibidik oleh Indonesia dalam menghimpun investasi, selain Amerika Serikat, negara-negara di kawasan Eropa, dan TimurTengah. Menurut dia, negara itu adalah sumber investasi. Seiring dengan kondisi yang berubah di China– yakni upah buruh dan biaya yang bergerak naik, serta pengetatan di sejumlah bidang–banyak pemodal asing, termasuk dari China mulai melirik negara lain untuk merelokasi bisnis mereka.

Sementara itu, ekonom Tim Indonesia Bangkit Ichsanudin Noorsy menyoroti tingkat kepastian investasi langsung yang rendah sebagai penyebab minimnya investasi asing. Koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kepala daerah/kota yang minim menjadi salah satu sumbernya. “Sebagai bukti, empat provinsi di Kalimantan sangat sulit membangun kesepakatan untuk membangun jaringan rel kereta api. Itu yang saya dapat dari Kalimantan Summit,” tuturnya.

Ichsanudin menilai kebijakan otonomi daerah menjadi kendala lain yang mempersulit koordinasi tersebut. Semua persoalan rumah tangga itu membuat dia pesimistis terhadap hasil dari berbagai kunjungan yang dilakukan pemerintah ke negara lain untuk mengundang para investor asing masuk.

Pesimisme yang pastinya harus dibuang jauh-jauh oleh Gita, yang ditugaskan sebagai juru kampanye pemerintah dalam menarik investasi asing.

* Artikel ini muncul di Bisnis Indonesia, 23 Juni 2010, sebagai kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Repotnya menjual Indonesia. Artikel ini dengan versi bahasa Inggris dapat anda lihat di To attract investment from China.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s