Ada mafia di balik joki saham?

Ada yang janggal dengan gayanya berpakaian. Bersepatu coklat, celana panjang hitam, berjas krem, dengan kerah T-shirt merah menyembul di antara kerah kemeja putihnya. Tanpa sadar Andri pun seringkali merentangkan jemarinya, sekadar menahan lengan jas yang kepanjangan. Dia tampak risih memakai jas yang tampak tidak sesuai untuk ukuran tubuhnya.

Andri datang sejak pukul 8.30 WIB di Semanggi Expo, kawasan niaga terpadu Sudirman, Jakarta, untuk ikut antri memesan saham perdana PT Adaro Energy Tbk. Padahal, penawaran umum saham perusahaan pertambangan batu bara itu baru mulai pukul 10.00 WIB. Ketika penawaran dimulai, Andri pun ikut mengantri bersama ratusan orang yang datang dengan tujuan yang sama, yakni mendapatkan formulir pemesanan saham. Adaro membuka penawaran umum pada tanggal 8-10 Juli.

Usut punya usut Andri dapat mengantongi uang Rp30.000 untuk satu formulir tersebut. Antrian orang mengular dengan panjang lebih dari 20 meter, dan lebih ketat dari penawaran umum biasanya membuat dia harus puas untuk dapat satu formulir saja. “Biasanya ga sesusah ini. Waktu di Senayan [penawaran umum saham PT Indika Energy Tbk pada 4-6 Juni], antrian lebih panjang tapi lebih gampang,” ujarnya.
Antrian seperti itu memang kerap terjadi saat ada emiten baru yang ingin mencatatkan sahamnya di bursa. Orang berbondong-bondong mendapatkan formulir pemesanan saham perdana. Dari kaca mata awam pun, dengan mudah diketahui kalau pengantri itu hanyalah joki. Orang upahan yang bersedia antri berjam-jam untuk mendapatkan formulir.

Inilah bedanya Jakarta dengan kota besar dunia lainnya. Meskipun di New York atau Singapura ada bursa saham, tidak ada lagi antrian panjang saat pemesanan saham perdana. Di Singapura, orang cukup memesan secara on-line melalui Internet. Jadi tidak perlu lagi antri. Antrian semacam itu hanya ada di Jakarta.

Cukup aneh, karena toh cikal bakal bursa saham di Ibu Kota sudah ada sejak 1980-an. Lagipula sejak 2.000, saham di bursa efek nasional sudah tak berwujud lagi alias non warkat (scriptless), mengikuti tren dunia. Kini, zaman sudah berubah, tidak perlu lagi menyimpan tumpukan kertas berharga itu di rumah.

Tata cara pembelian saham pun sejatinya berubah. Ini diakui oleh Hendra Untung, seorang investor saham ritel, yang sudah berkecimpung di pasar modal sejak bursa berdiri. Dia kecewa dengan upaya pihak-pihak tertentu yang dengan setia melestarikan ‘tradisi’ antrian tersebut.

Tapi apa boleh buat, seringkali diapun kesulitan mendapatkan saham perdana dalam jumlah yang sesuai dengan pesanan. Ini termasuk pesan lewat sekuritas dimana dia mempunyai rekening efek. “Saya pesan 10 lot, cuma dapat satu lot. Akhirnya orang yang punya banyak duit seperti bandar rela mengeluarkan duit ekstra untuk bayar orang ngantri mengambilkan formulir buat dia,” ujarnya.

Anto, bukan nama sebenarnya, juga kesal dengan ‘tradisi’ antrian semacam itu. “Sering para joki itu diperlakukan lebih baik dari pada kami, yang investor betulan. Kalau mereka pesan [saham perdana] dilayani cepat, sedangkan kami diperlambat. Padahal, sering juga saya lihat nota transaksi yang mereka pegang palsu. Tetapi kenapa nota itu diproses di dalam [oleh badan administrasi efek dan emiten]?”

Dengan kejanggalan yang terkesan dipelihara, Anto menuding ada mafia di belakang aksi joki. Pasalnya, semua pihak termasuk otoritas seperti tutup mata dan bungkam menyaksikan antrian panjang yang tak jelas juntrungannya itu. Namun, apa mau dikata antrian joki saat penawaran umum saham perdana tampaknya masih akan bertahan dalam beberapa waktu yang akan datang.

Ketika saya tanyakan soal kemungkinan pasar modal kita memfasilitasi pemesanan saham perdana via on-line seperti di negeri jiran Singapura, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany mengatakan hal itu belum memungkinkan. “Sekarang ini sistemnya belum bisa,” katanya di sela-sela penutupan bursa akhir Desember 2008 lalu.

(first posting on notes-facebook Sunday, January 11, 2009 at 8:26 pm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s