Bakrie & pasar modal Indonesia

“Wah kalau diminta komentar soal [yang terkait dengan] Bakrie ga dulu deh mbak. Bisa kacau urusan. Pasar lagi sensitif. ” Komentar semacam itu sering saya dengar ketika memintai analis atau pelaku pasar lainnya mengomentari aksi korporasi atau perkembangan penyelesaian utang Grup Bakrie. Hanya sedikit orang yang berani memberi komentar, apalagi yang sifatnya mengkritik, dengan tajam. Tak heran nama analis yang sering muncul di koran ini dia lagi dia lagi. 

Persoalan utang berjaminan saham dan repurchase agreement (repo) Grup Bakrie terendus pertama kali ketika Bank Danamon secara tiba-tiba menyimpan 7,99% atau 1,55 miliar saham PT Bumi Resources Tbk pada 20 Agustus 2008. Usut punya usut, bank keenam terbesar nasional itu hanya menjadi kustodian dari kreditor (JP Morgan Chase Bank NA dan ICICI Bank Ltd) yang memberikan utang US$300 juta kepada PT Bakrie & Brothers Tbk. Sebagai gantinya, kreditor berhak memegang saham yang dijaminkan oleh Bakrie sampai utang itu lunas.

Perpindahan saham itu menjadi titik awal terkuaknya misteri utang yang melilit kelompok usaha yang dipimpin oleh Nirwan Dermawan Bakrie, adik Menko Kesra Aburizal Bakrie.

Awalnya otoritas pasar modal dan bursa memaklumi utang berjaminan saham itu karena tidak ada aturan yang melarangnya. Sebulan kemudian pasar keuangan global mulai menciut, krisis terhebat sejak depresi besar (the great depression) di AS pada 1930-an melanda. Lehman Brothers Holdings Inc, raksasa keuangan berusia lebih dari satu abad, tumbang.

Badai krisis global berhembus sampai ke bursa domestik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) terus tergerus sampai akhirnya rontok lebih dari 10% pada 6 Oktober dimotori oleh kejatuhan seluruh saham Bakrie. Bursa Efek Indonesia langsung menyetop sementara (suspensi) perdagangan saham Bakrie.
Spekulasi dan rumor bergulir. Tekanan jual terus datang, indeks terdiskon lagi hingga 12%. Tak kuasa, untuk pertama kalinya dalam sejarah bursa tutup pada 8-10 Oktober.

Menghadapi tekanan dari berbagai pihak, pada 12 Oktober seluruh petinggi (direksi perusahaan afiliasi) Bakrie angkat bicara. Kepada pers mereka mengungkapkan telah menjaminkan saham anak usaha bernilai US$6 miliar untuk utang total US$1,2 miliar. Meski utang terbesar ke Odickson Finance S.A sebesar US$1,08 miliar baru jatuh tempo pada April 2009, nilai jaminan yang merosot terbawa kejatuhan harga saham mendorong Bakrie untuk melunasi utang dengan segera.

Repo di pasar membengkak, berjalin berkelindan tak keruan karena ternyata investor perorangan ikut menggadaikan saham Bumi, favorit ‘sejuta umat’, atau saham Bakrie lainnya. Tak ada yang tahu pasti nilai totalnya. Broker pun ikut terjerat.

Semuanya bermula dari rencana Bakrie & Brothers menggelar hajatan terbesar dalam sejarah, penawaran umum terbatas (rights issue) senilai Rp40,12 triliun dan meraup dana pihak ketiga sehingga nilai total aksi korporasi mereka lebih dari Rp50 triliun. Bakrie menyerap uang dari pemegang saham untuk menggenjot kepemilikan di sejumlah anak usaha. Dana lainnya berasal dari utang.

Ambisi dari aksi korporasi ini adalah menjadi tujuan investasi paling komplit bagi para investor. Pasalnya, Bakrie & Brothers sebagai holding investasi memayungi sejumlah anak usaha yang bergerak di berbagai bidang yaitu sektor pertambangan batu bara lewat Bumi Resources, migas (PT Energi Mega Persada Tbk), perkebunan (PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk), telekomunikasi (PT Bakrie Telecom Tbk) dan sektor properti & infrastruktur (PT Bakrie Development Tbk). Ibarat sekali menaruh telur, terdiversifikasi merata di banyak keranjang.

Nilai aksi korporasi berskala raksasa, terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia, itu kontan memicu kontroversial. Meski sempat mengalami tarik ulur, Bapepam-LK toh merestui aksi korporasi itu. Sentimen positif membanjir. Bakrie akan menjadi penggerak utama pasar modal domestik dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar, mengalahkan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang sudah bercokol di posisi puncak sejak pertama masuk bursa. Analis mengeluarkan rekomendasi “beli” untuk saham-saham Bakrie. Sampai-sampai ada satu analis yang menentang arus, langsung ‘didepak’.

Selang sekitar satu semester kemudian, pasar berubah 180 derajat. Nilai portofolio anjlok. Investor teriak. Kini, banyak yang menuding, otoritas pasar modal telah gegabah dalam memberi izin. Padahal, setiap investor mestinya paham bahwasanya setiap keputusan ada di tangan pemegang saham. Layaknya membeli baju, teliti sebelum membeli. Lalu pantaskah kini untuk mencari kambing hitam?

(First time post in notes-facebook on Sunday, January 11, 2009 at 6:48pm)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s