Shanghai pamer kemegahan

Cuaca di Shanghai, China, ketika saya mengunjunginya pada awal bulan lalu [Juni] tak jauh beda dengan Jakarta sekarang ini. Sesekali hujan, berangin, tapi terasa jauh lebih dingin dibandingkan dengan Jakarta walau suhu mencapai 29 derajat Celcius.

Cuaca yang dikenal sebagai plum rain season pada kurun Juni-Juli ini menyiapkan warga kota dalam menghadapi musim angin kencang– sesekali topan– yang kerap terjadi pada akhir Agustus hingga 20 hari pertama pada September.

Sinar matahari yang amat menyilaukan menyeruak masuk melalui jendela pesawat China Airlines penerbangan dini hari yang saya tumpangi, meski jam di tangan saya menunjukkan waktu masih pukul 5 pagi. Cahayanya memaksa saya untuk terjaga, meski sepanjang malam sulit tidur karena terusik turbulence dan suara bising pesawat. Pramugari melarang kami menutup jendela untuk mengurangi tekanan selama turbulence terjadi.

Setelah menempuh penerbangan dini hari selama sekitar lima setengah jam dari Ho Chi Minh City, Vietnam, saya dan lima orang rombongan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tiba di bandara Pudong International Airport, Shanghai. Mobil dari hotel dan konsulat jenderal menjemput kami di bandara pagi itu.

Hutan menara. ©Pudji Lestari

Perjalanan menuju hotel tempat menginap di tengah kota, yang membutuhkan waktu sekitar satu jam, memamerkan suasana kota yang tertata apik. Menara listrik berbaris di sisi kanan dan kiri jalan tol selepas dari bandara. Menunjukkan tingkat konsumsi listrik China yang tinggi demi mengimbangi pertumbuhan ekonomi negara itu.

Pudong, Shanghai. ©Pudji Lestari

Lalu, disusul jajaran apartemen, yang semakin ke tengah semakin menunjukkan keunikan dan tingkat kelasnya. Morning glory aneka warna mekar penuh di antara tanaman pagar yang terpangkas rapi menghiasi pedestrian di sepanjang jalan. Tanaman tinggi tak ketinggalan ikut meneduhkan pedestrian.

Hotel Gran Melia tempat kami bermalam berada di kawasan Lujiazui, di distrik Pudong, yang merupakan kawasan baru yang sengaja dibangun untuk pusat bisnis dan keuangan terbesar di China daratan. Sebagai kawasan kota baru, jalanan di distrik ini terkesan sepi.

Kota lebih banyak dipadati oleh bangunan apartemen dan perkantoran. Ada Tomorrow Square Building yang tampak seperti robot masa depan, menara stasiun televisi Oriental Pearl Tower, Jin Mao Tower yang menyerupai pagoda dan Shanghai World Financial Center. Dua yang terakhir, saat ini masih tercatat sebagai bagian dari 10 menara tertinggi di dunia.

World Expo 2010

Mengunjungi Shanghai pada tahun ini, tak lengkap bila tidak melihat World Expo. Pameran akbar dunia, yang digelar rutin setiap 5 tahun sejak 1851 ketika Great Exhibition of Industries of All Nations digelar pertama kali di London. Tahun ini, giliran Shanghai yang menjadi tuan rumah. Perhelatan ini pun tak ayal menjadi yang terbesar sepanjang masa.

Financial Times menyebutkan pemerintah China menghabiskan US$55 miliar untuk menyulap Shanghai menjadi cantik seperti sekarang ini lantaran ada World Expo. Jumlah itu dua kali lebih banyak dari belanja Beijing ketika menjadi tuan rumah Olimpiade 2008.

Pemerintah juga menambah sejumlah jalur metro–moda transportasi kota berupa kereta listrik, terminal bandara, stasiun kereta, dan infrastruktur lainnya. Kebijakan pemerintah China ini seakan ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana menerapkan ‘better city, better life’—yang merupakan tema World Expo 2010 ke alam nyata.

Berbagai tips cara mengunjungi pameran banyak tersebar di dunia maya, termasuk laman resmi pameran. Mulai dari memilih penerbangan, hotel, sampai memilih moda transportasi dari bandara.

Namun, tetap saja perbedaan bahasa menjadi kendala terbesar. Bahasa Inggris saja tidak cukup, termasuk untuk berbicara dengan petugas hotel. Warga Shanghai berbicara dengan bahasa setempat—Shanghainese—yang berbeda dengan standar Mandarin. Jika anda tak memakai jasa pemandu, perlu tulisan dalam bahasa kanji untuk menunjukkan arah tujuan kepada supir taksi.

Area World Expo seluas lebih dari 5 km2 terletak di kedua sisi sungai Huangpu, di antara jembatan Lupu dan Nanpu. Menurut Arma, guide kami, kawasan ini dulu adalah kawasan kumuh. Banyak warga yang dipindahkan ke tempat baru selama 5 tahun masa persiapan pameran. “Kalau di sini, pemerintah benar-benar menyiapkan tempat tinggal baru. Tidak main gusur.”

Dengan gaya otoriter ala komunis, pemerintah China mudah membentuk dan mengatur warganya. Banyak warga patuh dan tunduk terhadap aturan yang ada. Jangan harap supir taksi atau bus mau mengangkut anda jika jumlah penumpang melampaui kapasitas tempat duduk. Mereka tak mau kena tilang, dan jatah kuota 12 poin dalam setahun untuk izin mengendara dicoret. “Kalau poin sudah habis, repot untuk mengurusnya lagi. Mengurus izin yang baru mahal, bisa sampai 3 juta [yuan],” kata Arma.

Sebanyak 192 negara yang ikut ambil bagian dalam pameran mengharapkan ada 70 juta orang yang berkunjung selama pameran dibuka pada 1 Mei-31 Oktober 2010. Hingga 18 Juli, tercatat sudah 29,51 juta orang berkunjung ke pameran ini. Jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 500.000 orang per hari. Warga China sendiri sangat bersemangat untuk melihat pameran.

Mengantri masuk ke Paviliun Spanyol. Shanghai World Expo menjadi tempat hiburan keluarga. Warga senior dengan kursi roda banyak yang berpartisipasi. ©Pudji Lestari

Setiap negara saling unjuk gigi dalam menarik pengunjung mendatangi paviliunnya. Meski paviliun Indonesia diklaim cukup populer, paviliun negara kawasan Eropa dan China jauh lebih spektakuler. Antrian pengunjung yang ingin masuk ke dalamnya mencapai ribuan orang, butuh 3 jam-5 jam untuk masuk ke dalam ruang pamer paviliun.

Paviliun Indonesia. ©Pudji Lestari

Jadi kalau anda hanya punya waktu beberapa jam, tidak akan mungkin sempat mendatangi seluruh 373 ruang pameran dan paviliun. Surat kabar setempat memberitakan tentang Yamada Tomiyo, 61, warga negara Jepang yang menghabiskan 38 hari untuk mengunjungi seluruh paviliun.

Pemandangan dari lantai atas Paviliun Indonesia, di sela-sela pilar bambu berdiameter sekitar 15cm-20 cm. Tampak antrian orang yang ingin masuk ke paviliun. Di kejauhan sebelah kiri terlihat Paviliun Malaysia (berwarna merah) dengan bangunan yang mirip rumah gadang Minangkabau. ©Pudji Lestari

Pengunjung pameran asyik mengintip sesuatu di Paviliun Indonesia. ©Pudji Lestari

Satu hal yang perlu anda perhatikan ketika berkunjung ke sini adalah gunakan alas kaki yang nyaman. Tidak disarankan menggunakan high heels [sepatu bertumit tinggi].

 

Ini dia salah satu yang diintip. Tempat-tempat wisata di Indonesia. Pemerintah menyediakan hadiah berwisata ke Indonesia bagi beberapa pengunjung yang beruntung. #trik promosi. ©Pudji Lestari

#Tulisan ini tampil di Bisnis Indonesia Minggu edisi 25 Juli 2010, dengan foto yang berbeda dari ini. Saya juga mengedit beberapa kata untuk tampil di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s