Medco seret Lapindo ke arbitrase

JAKARTA: PT Medco Energi Internasional Tbk, perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Panigoro, akhirnya menyeret Lapindo Brantas Inc ke arbitrase internasional di New York terkait semburan lumpur panas di sumur Banjar Panji-1, Porong, Sidoarjo.

Perbedaan pendapat soal pihak yang harus bertanggung jawab sekaligus potensi kerugian yang bakal ditanggung oleh pemegang kontrak produksi migas Blok Brantas PSC membuat Medco berinisiatif memperkarakan operator sumur itu melalui arbitrase.

Semburan lumpur mengubur sebagian area pemukiman dan industri di Sidoarjo, Jawa Timur. Foto by Matanews.com

Medco memberitahukan langkah hukum itu kepada Lapindo melalui surat resmi pada 16 Oktober. Anak perusahaan yang dikuasai oleh perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk, mempunyai waktu 30 hari untuk menanggapi surat itu.

Dalam blok eksplorasi itu, selain Lapindo yang menguasai kepemilikan partisipasi 50%, Medco dan perusahaan minyak asal Australia Santos Ltd masing-masing memiliki 32% dan 18%.

Dirut Medco Hilmi Panigoro membenarkan langkah hukum itu. Namun, dia menolak membeberkan permasalahan ini ke media. Emiten migas itu lebih memilih penyelesaian melalui perundingan ketimbang arbitrase. “Saya tidak ingin ada perang antarmedia dalam memberitakan soal ini. Kami ingin membantu menyelesaikan masalah yang menimpa masyarakat di sana [Porong] dengan segera,” ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Analis PT Danareksa Sekuritas Bonny Setiawan menambahkan Medco telah mengungkapkan pengajuan Lapindo ke arbitrase dalam pertemuan dengan analis pada 3 November. “Medco mengajukan Lapindo ke arbitrase karena memang belum ada kepastian apakah itu kesalahan pengeboran atau bukan. Mereka juga tidak bersedia untuk membayar provisi biaya US$14 juta,” katanya.

Tak ikut campur

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan Ahmad Fuad Rahmany juga mengetahui adanya proses hukum terkait Medco dan Lapindo. “Saya tidak ikut campur soal proses hukum itu. Tetapi saya mengetahui hal tersebut.”

Dirut Bursa Efek Jakarta Erry Firmansyah mengatakan Medco dan Energi Mega belum melaporkan soal itu. “Mereka belum lapor sehingga kami juga tidak mengetahui. Mungkin kasus ini dilaporkan di luar negeri. Coba saya cek besok [hari ini].”

Bisnis tidak berhasil menghubungi telepon seluler Imam Agustino, General Manager Lapindo Brantas, dan Direktur Energi Faiz Shahab untuk meminta penjelasan soal gugatan arbitrase itu. Vice President Capital Market Energi Mega Herwin Hidayat mengaku belum mengetahui soal surat pengajuan arbitrase terhadap Lapindo. “Saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan staf legal saya yang kebetulan sedang ada di Surabaya dan baru kembali besok [hari ini].”

Analis PT Trimegah Securities Tbk Sebastian Tobing mengatakan jika Lapindo tidak merespons surat itu hingga 30 hari, Medco akan memenangkan arbitrase yang berarti tidak menanggung beban kerugian akibat semburan lumpur. “Saya kira Lapindo merespons arbitrase itu sehingga akan ada proses hukum. Kalau Medco memenangkan arbitrase sebelum Maret 2007, biaya provisi bisa dihilangkan atau dimasukkan lagi ke laporan laba rugi,” kata dia.

Jumat pekan lalu, harga saham Energi ditutup tak berubah dari Rp510 per saham, sedangkan saham Medco naik ke Rp3.250 dari sebelumnya Rp3.225.

*Berita ini terbit di Bisnis Indonesia edisi 13 November 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s