Mengukur lonjakan laba Indofood

PT Indofood Sukses Makmur Tbk akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga jual produk mi instannya sebesar Rp50 per bungkus atau sekitar 4% pada bulan ini. Kenaikan harga jual itu mungkin tidak akan berdampak signifikan pada harga jual mi rebus atau mi goreng siap saji yang dijajakan di warung-warung. Namun, tahukah Anda setiap kenaikan harga jual rata-rata produk sebesar 1% saja dapat langsung menyumbang peningkatan laba bersih Indofood sebesar 5%-6% atau Rp70 miliar-Rp75 miliar?

Itulah hasil hitungan analis Credit Suisse Arief Wana. Perhitungan itu didukung oleh proyeksi manajemen yang menargetkan dapat menjual sebanyak 11,3 miliar bungkus mi instan pada tahun ini.

Aneka ragam produk mi instan Indofood. Foto by sendokgarpu.com

Ketika dikonfirmasi mengenai kenaikan harga jual itu, Wakil Presiden Direktur Utama Indofood Fransiscus Welirang mengaku tidak tahu-menahu,”Yang naik itu tahun lalu,” bantahnya melalui sambungan telepon, kemarin. Dia juga menolak berkomentar mengenai besaran rencana kenaikan harga jual pada tahun ini.

Namun, Sekretaris Perusahaan Indofood Werianty Setiawan mengatakan kenaikan harga itu akan efektif pada 24 Agustus 2009. “Kenaikan harga tersebut tidak signifikan dan kami lakukan untuk menutupi kenaikan harga bahan baku,” tulisnya menjawab surat elektronik yang Bisnis kirimkan kemarin.

Arief menambahkan langkah menaikkan harga jual produk oleh produsen makanan bersolusi total terintegrasi itu kian menguatkan pandangan positif sekuritas asing itu terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Perusahaan yang membidik pasar massal seperti Indofood akan diuntungkan oleh peningkatan daya beli masyarakat.

Bukan itu saja, strategi yang ditempuh Indofood menunjukkan adanya perbaikan persaingan karena kenaikan harga dilakukan pada saat biaya input sedang rendah. Namun, kenaikan harga itu juga dinilai tepat yakni pada saat menjelang libur Lebaran, ketika konsumsi makanan substitusi secara musiman melonjak menyusul tersendatnya pengiriman bahan makanan segar dari daerah.
Dengan penentuan waktu yang baik untuk menaikkan harga, Arief pun mendongkrak proyeksi laba bersih Indofood tahun ini hingga 2011 sebesar 9%-16% menjadi berturut-turut Rp1,34 triliun, Rp1,83 triliun, dan Rp1,97 triliun.

Hal ini menempatkan proyeksi kinerja Indofood oleh Credit Suisse itu 21% di atas konsensus kinerja 2010. Sebagai gambaran, konsensus terhadap sejumlah analis yang dihimpun Bloomberg menyebutkan laba bersih pemilik merek Indomie itu pada 2010 bakal sebesar Rp1,54 triliun, dengan penjualan bersih Rp41,77 triliun. Konsensus kinerja untuk tahun ini yang berasal dari penjualan sebesar Rp39,02 triliun dan laba bersih Rp1,25 triliun.

Target harga saham

Arief dalam risetnya yang terbit pada 12 Agustus 2009 pun menaikkan target harga saham Indofood sebesar 15% menjadi Rp3.000 dari semula Rp2.600, dengan banyak potensi kenaikan dari peninjauan ulang terhadap unit usaha perkebunannya. Namun, setelah melihat kinerja Indofood Agri Resources Ltd (IndoAgri), anak usaha Indofood pada semester I/2009, Arief mendongkrak lagi target harga saham itu lebih tinggi menjadi Rp3.800 pada pekan ini dengan rekomendasi beli.

IndoAgri melaporkan laba bersih di luar revaluasi aset biologis pada periode Januari-Juni sebesar Rp645 miliar, itu sudah 65% dari prediksi Credit Suisse terhadap kinerjanya untuk sepanjang tahun ini dan 59% dari konsensus.
Pada perdagangan kemarin, harga saham berkode INDF ini naik 2,15% atau Rp50 ke level Rp2.375, menjadikannya bernilai pasar Rp20,85 triliun. Hal ini mengimplikasikan potensi kenaikan harga hingga 60%. Saham ini pun digadang sebagai salah satu pilihan puncak Credit Suisse yang ada di pasar.

Target harga saham itu sangat agresif bila dibandingkan dengan konsensus Bloomberg yang sebesar Rp2.602. Konsensus menunjukkan ada 13 analis yang merekomendasikan beli di antaranya adalah UBS Securities, Mandiri Sekuritas, dan BNP Paribas. Sebanyak empat analis lainnya seperti DBS Securities dan Kim Eng Securities menyarankan agar pemodal tetap menyimpan saham ini dalam portofolio investasi.

Credit Suisse menilai valuasi saham Indofood menarik karena diperdagangkan terdiskon 30%-40% dibandingkan dengan emiten konsumer dan perkebunan di kawasan, serta terdiskon 37% terhadap rata-rata emiten sekelasnya dalam 5 tahun. Jika valuasi sektor perkebunan dikalikan dengan divisi perkebunan Indofood saja, sekuritas itu memperkirakan divisi tepung dan barang bermerek akan diperdagangkan pada level 10 kali-11 kali.

Arief menjelaskan peningkatan laba bersih Indofood didukung oleh pengelolaan biaya yang lebih kuat pada unit usaha IndoAgri yakni PT PP London Sumatera Tbk dan margin yang tinggi. Lonjakan margin ini terjadi berkat kemampuan daya beli yang tinggi pada divisi minyak goreng bermerek. Perseroan belum memublikasikan kinerja per 30 Juni 2009, laporan keuangan diperkirakan terbit pada akhir bulan ini.

Dia mengharapkan divisi agrobisnis bakal menyumbang 43% laba sebelum bunga dan pajak perseroan pada 2010, diikuti oleh divisi barang beremerek sebesar 42% dan divisi tepung 15%. “Berdasarkan valuasi kami, divisi agrobisnis akan menyumbang 32% dari total nilai perusahaan, tetapi jika utang diprorata maka divisi bakal mengontribusi hingga 45%-50%. Hal ini menunjukkan agrobisnis tetap menjadi bagian yang penting dari Indofood dan karenanya kenaikan harga minyak sawit akan berdampak positif bagi perusahaan,” paparnya.

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia – Edisi Jumat, 21 Agustus 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s