Menunggu lego saham BNI tahun ini

Kabar Kementerian BUMN bakal melego kembali sahamnya di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berembus berkali-kali. Pada Maret, Meneg BUMN Sofyan Abdul Djalil secara gamblang menyatakan pemerintah berencana melepas 10% saham termasuk 3% porsi greenshoe di bank BUMN itu melalui penjualan strategis. Komite privatisasi sedang mengkajinya. Mungkinkah aksi korporasi tersebut dilakukan pada tahun ini?

Meneg BUMN menyebutkan akan melepas saham greenshoe BNI pada harga Rp2.050, sama dengan harga pada saat penawaran umum publik kedua pada Agustus 2007. Jumlah saham opsi greenshoe ini ada sebanyak 473,89 saham atau setara dengan 3,1% dari total saham yang dikeluarkan BNI.

Rumor di pasar menyebutkan saham BNI akan dilepas pada kisaran harga Rp2.200-Rp2.300. Pemerintah berupaya menjaga harga jualnya dengan memborong saham BNI pada harga Rp2.050, menyamai harga divestasinya 2 tahun lalu. Harga saham BBNI pada Jumat pekan lalu ditutup di level Rp1.780 setelah turun 1,11% atau Rp20 dari hari sebelumnya. Harga tertinggi saham BBNI Rp1.810 dicapai pada 10 Juni, dan terendah Rp650 pada 2 Maret.

Prognosa Kinerja PT Bank Negara Indonesia Tbk

2008 2009 2010 2011
Pendapatan bunga bersih (Rp miliar) 9.711 10.636 11.550 12.982
Pendapatan non bunga (Rp miliar) 2.176 2.220 2.264 2.309
Total pendapatan (Rp miliar) 13.461 14.518 15.487 16.939
Provisi kerugian kredit (Rp miliar) (4.359) (4.411) (4.157) (4.659)
Laba sebelum pajak (Rp miliar) 1.932 3.242 3.387 3.575
Laba bersih (Rp miliar) 1.222 2.331 2.537 2.678
Laba per saham/EPS (Rp) 80 153 166 175
Pertumbuhan EPS (%) 27 91 9 6
P/E (x) 22,5 11,8 10,8 10,3
Dividen per saham kotor (Rp) 29 40 76 83
Imbal hasil dividen (%) 1,6 2,2 4,2 4,6
P/BV (x) 1,8 1,7 1,6 1,5
ROE (%) 7,5 14,8 15,3 15,0

Keterangan: EPS: earning per share/laba per saham dasar, P/E: rasio laba bersih dibandingkan dengan harga saham, P/BV: rasio nilai buku dibandingkan dengan harga saham, ROE: return on equity/keuntungan terhadap ekuitas. Sumber: CIMB-GK Research, Bloomberg.

Empat bulan yang lalu, analis Kim Eng Securities Katarina Setiawan menilai kecil kemungkinannya bila penjualan strategis saham BNI dilakukan pada harga Rp2.050. Pasalnya, harga pasar saham berkode BBNI saat itu hanya Rp700 atau diperdagangkan 0,7 kali dari nilai bukunya.

Empat bulan berselang, PT Danareksa Sekuritas-yang notabene adalah BUMN sekuritas sehingga berpeluang besar bakal menerima mandat dari pemerintah untuk menjual kembali saham BNI-menargetkan saham BBNI di level Rp2.300. Apakah ini kebetulan?

Analis Danareksa Bonny B. Setiawan menjelaskan target harga itu mengimplikasikan estimasi rasio nilai buku dibandingkan dengan harga saham (price to book value/PBV) 2009-2010 sebesar 2,1 kali-1,9 kali. Selain itu, mencerminkan estimasi rasio laba bersih dibandingkan dengan harga saham (price to earning ratio/ PER) 2009-2010 pada level 16,1 kali-11,6 kali.

Danareksa merekomendasikan beli terhadap saham BNI dilandasi oleh tiga hal. Pertama, bank ini terus membukukan keuntungan berkat adanya efisiensi biaya. Pada semester I/2009, laba bersih tumbuh 176% dibandingkan dengan tahun lalu berkat pendapatan berbasis biaya (fee-based income) yang lebih tinggi. Perbaikan efisiensi biaya ditunjukkan dengan penurunan rasio biaya terhadap pendapatan (cost income ratio) menjadi 42% dari posisi puncak 66% pada 2007. Danareksa mengasumsikan pada 2009 rasio ini sebesar 52%. “Meskipun kami tidak mengharapkan adanya penurunan biaya operasional yang signifikan, terutama dengan rencana ekspansi bank, produktivitas yang tinggi membawa laba usaha sebelum pencadangan naik 11% dalam 3 tahun mendatang,” papar Bonny dalam risetnya yang terbit pada 17 Juli 2009.

Kedua, alokasi biaya pencadangan yang lebih rendah menunjukkan kualitas pinjaman yang membaik. Biaya pencadangan meski dari tahun ke tahun naik 20%, secara kuartalan turun 24% menjadi Rp1,11 triliun dari semula Rp1,47 triliun. Pada semester I/2009, biaya pencadangan itu sebesar Rp2,59 triliun naik dari sebelumnya Rp2,15 triliun.

Ketiga, pertumbuhan kredit yang terjaga pascapembersihan kredit bermasalah. Kredit perbankan yang disalurkan BNI pada sepanjang tahun ini tumbuh 7%. Memang jauh dari target manajemen yang sebesar 14%-16%, tapi Danareksa memperkirakan pertumbuhan kredit BNI pada 2009 hanya berkisar 10% dibandingkan dengan tahun lalu. “[Ekspektasi] ini lebih rendah karena penyaluran utang ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) agaknya sulit,” urainya. Dia percaya fokus kunci penyaluran kredit BNI masih membidik korporasi dan konsumer, dengan tetap mengagendakan pembersihan kredit bermasalah sebagai prioritas. Pasalnya, rasio kredit bermasalah korporasi dan konsumer relatif rendah yakni hanya 3,6%-3,8%.

Kredit korporasi

Kredit korporasi tumbuh 37% pada paruh pertama tahun ini, dengan kredit ke UKM naik 11%-12% dari posisi tahun lalu. Sejauh ini, utang korporasi menyumbang 35% dari total utang dan utang ke UKM 43%. Kelanjutan program restrukturisasi, kata Bonny, menjaga NPL bank di bawah 6%.

Berlawanan dengan rekomendasi Danareksa yang optimistis, analis CIMB-GK Securities Mulya Chandra bersikap lebih konservatif terhadap BNI. Dia hanya mematok target harga Rp1.300 dengan rekomendasi underperform dalam 12 bulan ke depan. “Kami menegaskan perkiraan dan rekomendasi underperform karena percaya reli harga dalam beberapa bulan terakhir telah memberi kekuatan valuasi bagi saham BNI lebih dulu ketimbang fundamentalnya,” jelas Mulya dalam risetnya pada 17 Juli 2009.

Dengan harga pasar saat ini mencerminkan 1,6 kali PBV sejalan dengan tingkat keuntungan terhadap ekuitas (return on equity/ROE) sebesar 19%, yang diyakini CIMB-GK lebih dari yang bisa dicapai BNI. Target harga menggunakan perhitungan valuasi DDM dengan tingkat diskon 16,1%. Lebih jauh, Mulya menyoroti ekspektasi manajemen BNI terhadap peningkatan biaya pada masa datang menyusul adanya biaya iklan. Belum lagi biaya ekstra untuk rencana penambahan kantor cabang atau anjungan tunai mandiri, yang tentunya dibarengi dengan penambahan karyawan termasuk staf dengan kualifikasi yang tinggi. Rasio biaya ditargetkan sebesar 53% pada 2009.

Menurut dia, kinerja BNI pada semester I/2009 sejalan dengan estimasi CIMB-GK di mana laba bersih dan laba inti mencapai 51% dari prediksi setahun penuh. Soal rasio NPL yang relatif stabil dari 5,6% pada Maret menjadi 5,5% pada Juni, Mulya mengatakan kenaikan rasio NPL kredit konsumer dan UKM dikompensasikan oleh utang korporasi dan perusahaan menengah yang lebih rendah.

Pertumbuhan kredit BNI secara kuartalan sebesar 4,4% menjadi Rp119,9 triliun mencakup Rp3,5 triliun untuk proyek pembangunan pembangkit listrik. Jumlah simpanan naik 2% sehingga mengangkat rasio simpanan terhadap kredit menjadi 71%.

*Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia,  edisi 21 Juli 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s