33 Tahun simpan saham Unilever dan Bayer

Beli dan jual saham dalam sehari adalah hal yang lazim bagi pemegang saham. Horison investasi jangka pendek yang diadopsi banyak pemegang saham domestik ini pun tak ayal mengidentikkan investasi saham dengan istilah ‘main saham’. Tapi, menjadi tidak lazim bagi Meutia Farida Hatta Swasono yang sudah 33 tahun menyimpan baik-baik saham PT Unilever Indonesia Tbk dan PT Bayer Indonesia Tbk sejak 1973. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan itu memegang dua saham tersebut bukan karena menginginkan dividen yang lebih besar, melainkan tidak mengerti bagaimana berdagang saham di bursa.Dia menceritakan kembali perkenalannya dengan saham Unilever dan Bayer itu seusai membuka perdagangan saham sesi pertama kemarin di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) seiring dengan peringatan hari lahir Kartini, pahlawan perempuan, yang jatuh pada 21 April. “Saya tidak tahu begitu banyak soal saham, sehingga saya tadi mengatakan mau ikut kalau BEJ mengadakan pelatihan. Tetapi tentu disesuaikan dengan tugas saya. Kalau ada empat sesi barangkali saya cuma satu sesi yang bisa ikut, tapi syukur-syukur bisa lebih.”

Meutia, 59, mengisahkan saham-saham itu dibelikan suaminya Sri-Edi Swasono Nitidiningrat ketika mereka baru saja menikah. “Tapi saya tidak pernah baca karena tidak pernah mengerti. Kalau mau tanya suami dia juga sibuk, nanti kalau dia menjelaskan barangkali saya juga tidak mengerti, ada angka-angka begitu susah akhirnya saya simpan saja begitu.”

Sebenarnya Meutia mengerti manfaat dari memiliki saham, tetapi baginya saham adalah sesuatu yang mungkin perlu ketertarikan dan bakat khusus untuk memahaminya. “Daya tolak saya rupanya lebih kuat karena tidak bakat ke situ sebetulnya.” Hal itulah yang membuatnya sedikit tertinggal dari anaknya, yang lebih paham soal saham ketika diajarkan bapaknya. Sri Edi adalah seorang guru besar bidang ekonomi di Universitas Indonesia (UI).

Benar saja. Pengalaman Meutia di kemudian hari mengajarkannya. Ketika staf pengajar Antropologi di UI ini diangkat menjadi guru besar, saham yang telah lama disimpan rapat-rapat itu menolong biaya pengukuhan yang lumayan besar. Kepada Bisnis, dia mengaku sempat menghabiskan biaya lebih dari Rp110 juta. Untuk menjadi guru besar yang dilantik pada 6 April 2006, dia membiayainya dari saham tersebut meski jumlahnya sudah jauh berkurang. “Saya kira ini pengalaman saya. Bukan success story, tapi pengalaman bagaimana menggunakan saham,” katanya.

Dengan pengalaman itu, Meutia ingin kaum perempuan mulai sadar untuk berinvestasi di pasar modal. Dia mengajak kaum perempuan muda mau belajar berinvestasi, sehingga bisa menikmati keuntungannya di hari senja. Tentunya ketika perempuan belajar, dia tidak memperpandai dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya termasuk anak-anaknya. Belajar berinvestasi bukanlah sesuatu yang instan. Hal itu keterampilan yang perlu dipupuk sejak dini, agar nanti mahir atau tidak gamang saat dewasa.

Memang masih banyak yang perlu diperbaiki di negeri ini, diantaranya menurut Meutia adalah faktor sosial budaya yang masih mensyaratkan wanita mengatasnamakan suami jika ingin berinvestasi. Ke depan, dia berharap kaum perempuan mau belajar dan mulai memakai nama sendiri, ketika memutuskan untuk mempunyai usaha. Dengan begitu, mungkin kasus perselisihan nama dagang rumah makan ayam goreng Suharti yang muncul setelah suami istri pengusaha itu bercerai, tidak akan terjadi. “Perempuan harus mempunyai usaha atas namanya sendiri, dan saya kira nanti juga kalau berinvestasi tidak atas nama suami. Saya saja diberi saham oleh suami atas nama saya sendiri,” ujar Meutia.

Dengan sadar dan mau berinvestasi, dia berharap perempuan bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Lagipula, berinvestasi saham tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi secara tidak langsung juga membantu pembangunan di Indonesia. Pasalnya pembelian saham oleh masyarakat akan membantu permodalan perusahaan terbuka, sehingga perseroan kemudian bisa berekspansi dan menjangkau pelosok daerah. “Kalau ada pembelian saham, modal perusahaan bisa lebih tinggi, kemudian mereka bisa menjangkau daerah yang tadinya tidak terjangkau. Itu kan artinya kita menyumbang, berpartisipasi dalam pembangunan melalui investasi kita sendiri. Jadi kita untung, perusahaan juga untung,” ujarnya. Nah sekarang kalau ibu menteri saja mau belajar berinvestasi di pasar modal, kenapa kita tidak?

* Artikel ini terbit di Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 22 April 2006.

One thought on “33 Tahun simpan saham Unilever dan Bayer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s