Mari nikmati bersama kejayaan pasar modal

Terompet pergantian tahun baru saja ditiup. Kegembiraan mewarnai lantai bursa demi merayakan keberhasilan yang dicapai pada tahun yang telah lewat. Pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) setahun kemarin memang mengesankan, bahkan bisa dibilang spektakuler karena indeks naik lebih dari 56% dibandingkan dengan posisi penutupan akhir 2006 di level 1.805.
Indeks berhasil menjejakkan kaki di level 2.818,53, sebagai rekor tertinggi baru yang dicetaknya pada 12 Desember 2007. Dibandingkan dengan indikator perdagangan saham di bursa Asia Tenggara, IHSG terlihat tumbuh paling pesat. Indeks Straits Times Singapura yang menjadi salah satu acuan di kawasan hanya tumbuh kurang dari 20% sepanjang 2007.

Di tahun yang baru ini sejumlah pelaku pasar optimistis IHSG bisa menanjak lebih tinggi. Presdir Fitch Ratings Indonesia Baradita Katoppo, Presdir Fortis Investments Indonesia Eko Pratomo, dan Presdir Makinta Securities Vincent Widjaja adalah segelintir yang percaya indeks bisa tumbuh 20%-35% atau dengan kata lain bisa melampaui level 3.500 pada tahun ini.

Mereka menilai saham sektor sumber daya alam seperti produsen energi, komoditas metal, dan komoditas perkebunan masih prospektif. Sektor konsumsi diharapkan meningkat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, faktor inflasi dapat menjadi kendala yang membayangi kuatnya konsumsi masyarakat.

Sebaliknya Head of Research UBS Indonesia Joshua Tanja bersikap sangat konservatif dengan hanya mematok target IHSG di level 3.050 dalam 12 bulan ke depan. Dia tetap bullish (merekomendasikan beli) terhadap saham sektor konsumsi termasuk otomotif, lalu sektor perbankan dan juga batu bara. Bagi sekuritas asing ini konsumsi yang kuat akan menjadi tema cerita utama pada sepanjang 2008. Di sektor agrikultur, bisnis peternakan mulai layak untuk dilirik setelah perkebunan tumbuh lebih dulu.

Akan tetapi untuk saham terkait minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan nikel berkecenderungan bearish [diprediksi diwarnai banyak aksi jual/berkebalikan dari bullish]. UBS berpendapat harga saham nikel dan CPO sudah terlalu mahal. Harga saham nikel juga sudah mencerminkan kenaikan harga komoditas dunia. Ke depan, meski masih ada potensi kenaikan harga komoditas tidak akan berlari sekencang 2007.

Joshua optimistis dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Dia tidak terlalu khawatir dengan risiko pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia menyusul prediksi pelambatan yang terjadi di AS. Pasalnya, ekspor pengusaha domestik hanya 30% dari produk domestik bruto sehingga dampaknya relatif kurang signifikan. Rupiah diperkirakan bisa terapresiasi menjadi Rp8.800 pada akhir 2008, harga minyak dunia US$74 per barel, dan BI Rate sebesar 8% sudah menyentuh level dasar sehingga kecil kemungkinan bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga lebih jauh. Dengan level itupun, dia menilai perekonomian sudah bergairah dan bisa berlari kencang.

Berbeda dengan UBS, Head of Fixed Income Division Danareksa Sekuritas Budi Susanto justru yakin Bank Indonesia akan memangkas lagi suku bunganya hingga menjadi 7,5% pada tahun ini. Pasalnya, spread antara indeks imbal hasil surat utang negara (SUN) yang bertengger di level 9,37% [per 14 Desember 2007] dan BI Rate yang 8% masih sebesar 1,4%. Ini berarti masih ada ruang bagi penurunan yield SUN lebih lanjut, begitu pula dengan pemangkasan suku bunga patokan perbankan.

Sementara itu, Presdir Fitch Ratings Indonesia Baradita Katoppo mulai memasukkan Pemilu pada 2009 sebagai risiko yang akan dipertimbangkan oleh perusahaan yang ingin menerbitkan obligasi pada semester kedua. Di sisi lain, emisi surat utang berbasis mata uang asing pada semester pertama akan menghadapi tantangan besar mengingat kondisi pasar belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis investasi berbasis kredit pemilikan rumah berkualitas rendah (subprime mortgage) di AS.

Lembaga keuangan dunia yang masih memikul kerugian akan kesulitan likuiditas untuk menyerap penerbitan obligasi tersebut. Katalis penolong pun berada pada rencana pemerintah menerbitkan surat utang berbasis dolar. Jika rencana ini terealisasi, emisi obligasi dolar oleh korporasi diharapkan mengekor di belakangnya. Untuk pasar domestik, Baradita optimistis penerbitan surat utang korporasi berbasis rupiah akan sama banyaknya dengan emisi pada 2007 yakni Rp30 triliun.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. Optimisme pelaku pasar saja belum cukup. Pasar modal sejatinya digerakkan oleh pemodal lokal agar kokoh dan semakin mencerminkan perekonomian nasional. Belakangan memang terlihat pemodal ritel mulai mendominasi perdagangan saham di bursa, dari sebelumnya pemodal asing yang merajai pasar.

Sayangnya, pertumbuhan pasar modal hanya dinikmati oleh segelintir kecil orang. Menurut Dirut Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah, jumlah pemodal ritel kini mencapai 1 juta orang. Itu berarti kurang dari 0,5% jumlah penduduk Indonesia yang 210 juta jiwa. Mereka menginvestasikan modalnya langsung ke pasar saham dan obligasi, maupun tidak langsung melalui industri reksa dana dan asuransi terkait pasar modal seperti unit linked. Sampai saat ini tidak ada data publikasi resmi yang bisa dirujuk untuk melihat jumlah pemodal lokal.
Semoga ke depan, bursa pasca merger akan lebih solid dalam memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sehingga mereka berminat untuk berinvestasi di pasar modal dari saat ini sekadar mengandalkan simpanan di bank.

* Tulisan ini bagian dari Arah Politik dan Ekonomi 2008, sajian khusus terbitan Bisnis Indonesia yang memuat kompilasi proyeksi politik dan ekonomi tahun 2008. Arah terbit tiap awal tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s