Merger bursa tak cukup jadi bekal bersaing

Agaknya 2008 menjadi tahun penuh harapan bagi banyak orang, tak terkecuali bagi pasar modal di Indonesia dan Singapura. Pergantian tahun belum terjadi, tetapi pasar modal di kedua negara sudah mempunyai agenda baru yang diharapkan bisa menopang pertumbuhan mereka di masa datang.

Mulai awal bulan ini, kedua bursa domestik di Tanah Air resmi menyandang nama baru Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange, menyusul kesepakatan merger antara Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Sementara itu, Singapore Exchange (SGX) membuat gebrakan dengan meluncurkan nama baru dari papan pengembangannya pada 26 November.

Bursa negara kota itu juga mengusung format baru pada papan tersebut yang akan mereka terapkan secara efektif mulai 17 Desember. Awal tahun depan, mereka mengharapkan sudah bisa mengumumkan sederet nama sponsor perdana, sekaligus membuka kesempatan bagi sejumlah perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di papan baru itu.

Menarik mencermati perubahan di SGX karena kehadiran Catalist–nama baru bagi SESDAQ, papan pengembangan di bursa itu yang didedikasikan untuk pencatatan saham perusahaan skala kecil dan UKM, dinilai akan menjadi ancaman berarti bagi pertumbuhan pasar modal di Indonesia dan mungkin juga bursa lain di Asia. Apakah benar demikian? Berikut laporan wartawan Bisnis yang berkesempatan datang memenuhi undangan SGX, khusus untuk meliput peluncuran Catalist.

Pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI sepanjang tahun ini memang mengesankan, bahkan tak berlebihan kalau dibilang spektakuler karena indeks sudah naik lebih dari 52% dibandingkan dengan posisi awal tahun di level 1.805. Indeks sudah mencetak rekor tertinggi baru lagi pada penutupan perdagangan Selasa setelah menjejakkan kaki di level 2.752.

Kalau sekadar dilihat dari perbandingan pertumbuhan indeks, Straits Times jelas terpaut jauh dari pertumbuhan IHSG. Indikator perdagangan saham di SGX itu hanya tumbuh 18,57% sepanjang tahun ini. Namun, bursa negara kota itu boleh bangga karena bursa mereka jauh lebih likuid dan lebih diramaikan investor dan emiten dibandingkan dengan bursa domestik.

Bayangkan saja, hingga per 31 Oktober 2007 ada sebanyak 736 perusahaan tercatat di SGX. Dari jumlah tersebut, 63% emiten tercatat merupakan perusahaan lokal asal Singapura dan selebihnya berasal dari sedikitnya 11 negara. Disebut demikian karena data yang saya dapat, menunjukkan negara dalam satu kawasan Asia Tenggara dan juga Eropa disebut sebagai satu entitas. Selebihnya disebutkan ada emiten yang berasal dari China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Australia, India, AS/Canada, Korea, dan Israel.

China menjadi negara penyumbang emiten terbanyak yakni 132, disusul kemudian oleh Hong Kong (53), dan Taiwan (51), yang secara de facto sebetulnya adalah satu negara. Jumlah perusahaan tercatat bersama permodalan yang mereka miliki menjadikan kapitalisasi pasar bursa Singapura itu bernilai S$824 miliar atau setara dengan US$529,81 miliar. Dari jumlah tersebut, perusahaan asing menyumbang 33% kapitalisasi bursa. Sebagai pembanding, nilai pasar BEI berdasarkan data Bloomberg per kemarin mencapai Rp1.886 triliun atau setara dengan US$203,78 miliar.

Penambahan jumlah emiten asing di SGX dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Hingga Oktober, sebanyak 32 perusahaan asing yang melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dari total 46. Tahun lalu, bursa itu menerima 63 perusahaan baru yang IPO di mana 45 diantaranya merupakan perusahaan asing. Itu berarti 70% IPO tahun ini dan tahun lalu berasal dari perusahaan asing.

Jumlah dana yang dihimpun dari IPO perusahaan asing juga jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang dihimpun dari penawaran umum perusahaan lokal. Data per Oktober menunjukkan dana yang dikumpulkan oleh IPO perusahaan asing S$3,83 miliar dari total S$5,57 miliar. Tahun lalu juga begitu, penawaran umum perusahaan asing sanggup meraup S$6,18 miliar dari total S$8,16 miliar.

Mengamati perkembangan tersebut, pemangku kepentingan (stakeholder) SGX menyadari pertumbuhan bursa mereka di masa datang banyak disokong oleh perusahaan dan juga investor dari luar negaranya. Pada puncaknya, bursa itu pernah menerima 84 perusahaan yang IPO pada 2000. Pada 2004, jumlah IPO hampir menyamai rekor yakni sebanyak 82 emiten. Baik manajemen bursa maupun otoritas pasar modal yakni Monetary Authority of Singapore khawatir jika tidak dibuat satu perubahan dalam kerangka bisnis mereka, antrian emiten yang ingin mencatatkan sahamnya di bursa itu bisa terperangkap dalam kemacetan saat memproses IPO.

Sebagai kelanjutan dari strategi menjadikan bursa mereka sebagai pintu gerbang Asia atau Asian gateway, SGX pun mengkaji ulang peranan papan utama dan juga papan pengembangan SESDAQ yang mereka miliki terhadap perkembangan pasar modal di negara itu. Executive Vice President Head of Listings SGX Lawrence Wong mengatakan SESDAQ telah memfasilitasi perusahaan skala kecil dan menengah (UKM) lokal dengan baik, tetapi kini tiba waktunya untuk menjalani suatu transformasi demi pertumbuhan yang lebih besar.

Pada Mei, manajemen bursa pun mengumumkan sejumlah usulan yang berisi a.l. peraturan papan pengembangan baru untuk dikonsultasikan kepada publik. Sebagai jawabannya, di penghujung tahun ini bursa Singapura meluncurkan Catalist sebagai transformasi SESDAQ. Nama tersebut diambil dari kata catalist (katalis) dan listing (pencatatan). Perpaduan keduanya mengartikan pencatatan di papan ini bisa menjadi katalis atau pendorong pertumbuhan suatu perusahaan.

Tak Perlu Prospektus

Secara khusus, Catalist akan menjaring perusahaan berskala UKM. Persyaratan masuk dan pemrosesan pencatatan saham dan IPO dipermudah dan dipersingkat. Meskipun menjalani proses yang serupa, calon emiten tak perlu lagi membuat prospektus, tetapi cukup membuat dokumen penawaran.

Dokumen juga memuat pernyataan dari direkstur dan sponsor, bahwasanya modal kerja perusahaan akan mencukupi kebutuhannya sekarang dan dalam 12 bulan ke depan. Dokumen ini akan dimuat di situs untuk mendapatkan respon dari publik. Perbedaan peraturan SESDAQ dan Catalist selanjutnya dapat dilihat pada tabel ilustrasi.

Dengan strategi baru ini, proses pencatatan dipastikan menyusut dari 12-17 minggu saat ini menjadi hanya 5-6 minggu, menyusul pengalihan sejumlah kewenangan bursa kepada sponsor, termasuk dalam hal mengkaji calon emiten. Perusahaan sponsor juga yang akan mencari maupun membantu perusahaan baru untuk melakukan penawaran saham perdana dan melakukan aksi korporasi. Bursa hanya bertindak sebagai penegak peraturan, yang juga mengawasi sponsor dan menentukan sah tidaknya suatu perusahaan menjadi sponsor.

Adapun peran sponsor ini dapat berlangsung seumur hidup atau selama emiten yang dibawanya tercatat di bursa. Sponsor dapat berasal dari perusahaan apapun sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan dan disetujui untuk menjadi sponsor oleh SGX. Menurut Wong, mereka yang ingin menjadi sponsor harus mempunyai kantor, baik kantor pusat maupun cabang di Singapura. Mereka juga harus mempunyai kecukupan modal dan keahlian yang disyaratkan. Keuntungan menjadi sponsor adalah mereka semakin dikenal pasar dan mempunyai peluang menciptakan franchise di pasar.

Bukan sekadar menjaring emiten, SGX juga ingin memastikan perusahaan yang tercatat terus aktif setelah IPO dan pemodal tak enggan melirik dan berinvestasi pada sahamnya. Bursa pun memfasilitasi interaksi rutin dengan analis dalam pertemuan bulanan. Bursa juga menggelar lawatan ke sejumlah negara seperti Jepang dan Eropa guna mempertemukan manajemen perusahaan dengan pemodal institusi di luar negeri.

Di samping itu, bursa juga memastikan adanya ulasan riset dari para analis perusahaan sekuritas. Setidaknya satu emiten akan diamati oleh dua perusahaan sekuritas yang membuat riset. Selanjutnya hasil riset dimuat dalam situs bursa, agar pemodal bisa mengaksesnya secara gratis. Dukungan-dukungan ini menjadikan transaksi di bursa Singapura likuid. Pemodal yang ikut bertransaksi tidak terbatas dari dalam negeri, tetapi juga dari benua lain.

Saya masih ingat harapan dari Menkeu Sri Mulyani ketika ingin menggabungkan kedua bursa domestik, yaitu agar dapat bersaing dengan bursa di kawasan. Akan tetapi merger saja rasanya tak akan cukup bila tidak ditindaklanjuti dengan strategi yang rinci dan jitu seperti yang dipunyai SGX. Semoga saja sederet strategi itu bisa ditelurkan segera. ***Singapura, 6 Desember 2007.

Perbedaan antara SESDAQ dan Catalist

Persyaratan

SESDAQ

Catalyst

Dokumen IPO

harusbuat prospektus

SGX mengkaji perizinan masuk

cukup dokumen penawaran

kajian dilakukan oleh sponsor

Persyaratan sponsor

IPO melalui penjamin emisi

Melalui sponsor

Sebaran kepemilikan

500 pemegang saham saat IPO

Pasca IPO, 10% dari jumlah saham harus ada di tangan publik

hanya 200 pihak

Tidak ada perubahan

Kriteria kuantitatif

Harus mempunyai arus kas positif dari operasional

Tidak ada minimal laba atau rekam jejak operasional yang disyaratkan

Direktur

untuk perusahaan asing minimal mempunyai dua direktur independen yang tinggal di Singapura

Hanya satu direktur independen

Perubahan modal

Rights issue hingga maksimal 50%

Bisa sampai 100%

Penghimpunan modal non rights issue seperti share swap atau placement maksimal 20%

50%-100%

Pemrosesan IPO

12-17 minggu

5-6 minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s