Tak perlu ada tumbal di lantai bursa

Angka pada slip gaji Taizo Nishimuro anjlok 30% pada bulan ini. Walau demikian, Chairman Tokyo Stock Exchange (TSE) itu tidak kaget. Itu menjadi konsekuensi dari komitmennya untuk menjaga kondisi perdagangan yang nyaman dan lancar di bursa terbesar di Asia itu. Selain gaji Nishimuro, gaji Presiden TSE Atsushi Saito juga dipangkas dengan besaran yang sama. Khusus pada bulan ini, gaji dua pejabat senior lainnya juga akan dipotong 20%.

Pemotongan gaji para eksekutif TSE ini menjadi kebijakan bursa Negeri Sakura setelah sistem perdagangan di bursa itu mengalami gangguan jaringan internal pada 22 Juli. Manajemen TSE menyebutkan gangguan itu bermula dari kegagalan kecil dari sistem komputer. Walau kecil, gangguan itu telah memaksa TSE untuk menyetop perdagangan berjangka dan opsi saham yang berlangsung pada hari itu. Buntutnya kini TSE menjatuhkan sanksi pemotongan gaji kepada empat orang eksekutifnya.

Tindakan seperti ini memang bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Presiden TSE Takuo Tsurushima, seolah menempatkan diri sebagai tumbal, mundur dari jabatannya karena perdagangan di bursa itu terganggu dua kali dan ditutup lebih cepat untuk pertama kalinya dalam sejarah TSE. Pada 1 November 2005, kesalahan penerapan peranti lunak mengakibatkan sistem perdagangan jebol saat dilakukan kegiatan back-up rutin bulanan. Kerusakan itu memaksa bursa untuk membatalkan kegiatan perdagangan pada sesi pagi.

Sayangnya, kejadian seperti ini berulang kembali pada Desember 2005. Sistem mengalami error dalam menanggapi pesanan jual. Peranti lunak yang digunakan TSE pun dipertanyakan kualitasnya karena telah bersedia mengesahkan penjualan atas sebanyak 610.000 saham dari perusahaan yang baru listing di bursa itu. Sistem itu bahkan menolak permintaan pembatalan pesanan jual meskipun nilainya 40 kali lebih besar dari pada jumlah saham yang diterbitkan perusahaan baru tersebut. Sebulan kemudian, bursa meminta kegiatan perdagangan ditutup lebih cepat karena ada masalah. Tsurushima malu menghadapi kerusakan yang terjadi dalam tiga bulan berturut-turut, sehingga mundur dari jabatannya.

Penundaan

Lain lagi cerita di sini. Kemarin pagi, secara mengejutkan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan menunda perdagangan efek karena gangguan jaringan internal sistem perdagangan. Pengumuman itu ditandatangani oleh Direktur Utama BEI Erry Firmansyah dan Direktur Perdagangan Saham M.S. Sembiring.

Untungnya, kerusakan itu berhasil ditanggulangi, sehingga kegiatan perdagangan pada sesi I itu hanya mundur 1 jam 15 menit menjadi 10.45 WIB dari jadwal biasanya pukul 9.30 WIB. Mengantisipasi kehebohan lebih jauh, BEI pun menggelar jumpa pers khusus. Erry, yang didampingi Sembiring dan Direktur Teknologi Informasi Bastian Purnama, mengungkapkan penundaan transaksi dilakukan akibat adanya kerusakan pada jaringan yang menghubungkan sistem perdagangan dengan gateway.

Menurut dia, sistem perdagangan diaktifkan sejak pukul 07.00, tetapi satu jam kemudian jaringan mulai terlihat tidak stabil. “Karena khawatir gangguan jaringan ini dapat menyebabkan sistem mati di tengah jalan ketika transaksi berlangsung, sistem pun kami matikan,” tuturnya kemarin.

Dia memaparkan kerusakan yang terjadi tidak berkaitan dengan sistem perdagangan. Kalau kerusakan itu terjadi pada sistem, bursa dapat menggunakan sistem pendukung yang letaknya 30 km dari lokasi bursa saham sekarang ini, sesuai dengan peraturan di pasar modal. Namun, berhubung aktivasi sistem pendukung itu memerlukan waktu 5-7 jam, bursa pun memutuskan untuk tidak menggunakan sistem cadangan itu kemarin.

Dengan menunda kegiatan perdagangan itu, sesi I yang ditutup pada pukul 12.00 WIB hanya mencatatkan transaksi senilai Rp1,4 triliun, turun dari biasanya berkisar Rp2 triliun-Rp2,5 triliun. Namun, Erry tak mau menyebut itu sebagai kerugian bursa. Dia juga tidak menjamin kerusakan ini tidak akan terulang lagi pada kemudian hari. “Kami kan cuma fasilitator perdagangan, yang jelas kami berupaya semaksimal mungkin untuk menyediakan sistem yang bagus dan kami akan kaji kembali kondisi jaringan yang ada saat ini.”

Nasib manajemen BEI memang jauh lebih beruntung dibandingkan dengan rekannya di TSE. Kegiatan berinvestasi di bursa memang belum cukup populer di sini. Jumlah investor domestik yang ikut bertransaksi di BEI kurang dari 1% populasi negeri ini. Mungkin itu yang menyebabkan hal seperti penundaan perdagangan di BEI itu tidak menuai kecaman dari banyak pihak seperti di TSE.

Kalau Erry masih berpikir untuk menyiapkan sistem perdagangan cadangan yang akan aktif seketika pada saat sistem utama gagal karena harganya yang mahal, TSE sudah menganggarkan dana senilai 45 miliar yen atau setara dengan Rp3,81 triliun untuk mengganti sistem informasi. Tidak ada salahnya jika BEI menganggarkan belanja teknologi dalam jumlah besar sebagai antisipasi menghadapi kegiatan transaksi pada masa mendatang. Ini langkah preventif dibandingkan dengan memikirkan jumlah bonus yang layak bagi para eksekutif atas kinerja yang spektakuler pada tahun yang telah berlalu.

* Tulisan ini dimuat di halaman depan Bisnis Indonesia edisi Rabu, 6 Agustus 2008. Tulisan mendapat reaksi keras dari direksi BEI yang menjabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s