Jangan ingat pekerjaan

Dalam sehari bisa lebih dari sekali saya berjumpa dengannya di ruangan dengan tiga bilik itu. Saya dan Fitri Faelani bekerja di gedung yang sama. Tetapi kami punya profesi yang berbeda.

Gadis kelahiran Purwokerto yang baru genap berumur 22 tahun pada bulan lalu ini sebenarnya lebih suka dipanggil Lani. Nama panggilan yang lazim digunakan oleh keluarga dan teman dekat.“Nama Fitri itu banyak.”

“Kalau ada teman yang main ke rumah, terkadang tetangga malah menunjukkan ke rumah Fitri yang sudah nikah atau punya anak.”

Lani merantau ke Jakarta meninggalkan ibu, bapak, dan seorang adik perempuan. Dia bekerja di Menara Sudirman sejak akhir November 2010. Letak gedung ini ada di kawasan pusat niaga di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan. Jalan Sudirman merupakan salah satu kawasan bisnis utama di Jakarta yang marak dengan gedung perkantoran. Menara Sudirman adalah gedung perkantoran strata title, atau menjual sertifikat hak milik, pertama di Indonesia. Penghuni gedung bukan lagi penyewa, tapi sudah beralih status menjadi pemilik.

Namun, pemilik gedung masih sama yakni pengusaha Cahyadi Kumala, yang menempati lantai 28, lantai teratas. Adiknya, Haryadi Kumala berkantor di lantai 27, keluarga lainnya berkantor beberapa lantai lebih ke bawah. Ada kurang lebih 26 lantai di gedung ini, tetapi penomoran lantai menghilangkan unsur 4 seperti lantai 4 dan 13. Ada pula 3 lantai basement yang dijadikan area parkir.

Berbeda dengan keluarga Kumala yang menguasai beberapa lantai, Lani hanya bekerja di satu ruangan kecil dengan tiga bilik. Masing-masing bilik berukuran sekitar satu meter persegi.Ruangan itu bukan miliknya. Dia bekerja sebagai karyawan kontrak untuk PT Mitra Citra Mandira, perusahaan penyedia tenaga kerja jasa perawatan dan kebersihan gedung. Ada sekitar 30 orang karyawan kontrak yang diberdayakan oleh Mitra Citra Mandira. Menurut Lani, tidak ada satu pun di antara mereka yang bakal diangkat menjadi karyawan tetap. Masa bekerja karyawan paling lama pun tidak sampai dua tahun. Pegawai di bagian lain seperti ticketing parkir bahkan diputus kontrak kalau sudah menikah.

Di ruangan dengan tiga bilik itu, selama enam hari dalam sepekan, sebelas jam sehari kecuali Sabtu, dari pukul tujuh pagi hingga enam petang, Lani menyikat dan mengelap wastafel dan kloset, serta mengepel lantai di dalam toilet khusus perempuan hingga ke luar sampai ke depan pintu lift berada.

Ada dua wastafel dan tiga kloset duduk di tiap ruangan toilet wanita. Ada tiga toilet wanita di tiga lantai yakni lantai 19, 20, dan 21 yang menjadi tanggungjawabnya. Dia harus memastikan semuanya bersih, kering, dan tidak berbau, sehingga tidak ada keluhan dari penghuni dan tamu gedung.

Khusus hari Sabtu, dia membersihkan sejumlah anak tangga menuju basement. Total ada enam tangga basement, dan ada 16 anak tangga antar lantai kecuali tangga yang menuju lobby utama gedung. Seluruh petugas cleaning service membersihkan semuanya serentak. Meski pada Sabtu bisa pulang jam tiga sore, Lani merasa pekerjaannya pada hari itu paling melelahkan.

Sejauh ini, dan dia berharap seterusnya, tidak ada yang mengomelinya secara langsung. Tetapi pernah ada keluhan yang disampaikan ke pengelola gedung. Toilet kotor, becek, dan bau.

“Itu dulu waktu saya masih seminggu pertama kerja di sini.”

“Kaget.”

“Mungkin karena belum terbiasa beradaptasi dengan orang sini. Jadi sering ada komplain. Saya juga merasa… ya ampun masa aku ngelap-ngelap kloset, bersihin kamar mandi, toilet. Kalau ngepel sih wajar, di rumah juga ngepel, cuma ini bersihin kloset setiap hari.”

Sudah tujuh bulan sekarang, Lani sudah bisa memetakan situasi dan kondisi tempatnya bekerja. Dia bahkan tahu orang-orang tertentu yang sembarangan ketika buang air. Jongkok di atas kloset dengan tetap memakai sepatu, meninggalkan bekas pada dudukan kloset. Bila kedapatan orang itu keluar dari toilet, dia akan langsung membersihkannya sebelum orang lain masuk dan melihatnya. Dia juga tahu jam-jam sibuk para penghuni kantor berkunjung ke toilet. Ini memudahkannya bermanuver di tiga lantai yang menjadi wilayah operasinya.

Ga setiap jam tiap lantai ramai. Paling cukup tahu selanya saja. Jadi bisa gantian ke lantai lain.”

Dia mengaku sudah bisa menikmati profesi barunya. Sebelum ini, dia bekerja di pabrik rokok kretek Sampoerna di Purbalingga, Jawa Tengah. Di pabrik itu, selama enam hari dalam sepekan, tujuh jam sehari kecuali Sabtu, dari pukul enam pagi hingga dua siang, dia menempelkan pita cukai yang dia sebut sebagai banderol dan melapisi plastik pada kemasan rokok. Dalam sehari bisa mencapai 1.600 bungkus.

Satu bungkus Sampoerna Hijau berisi 12 batang sigaret kretek tangan. Merek rokok ini diproduksi dan dikenalkan pertama kali di Bali pada 1968 oleh Aga Sampoerna, generasi kedua dari keluarga Sampoerna. Data Nielsen menyebutkan pangsa pasar Sampoerna Kretek pada 2009 sebesar 4,3% dari total nasional. Salah satu anak Aga yakni Putera Sampoerna pada 2011 ditaksir memiliki kekayaan senilai $2,4 miliar, sehingga pantas duduk di peringkat sembilan orang terkaya se-Indonesia versi majalah Forbes Indonesia, tempat saya bekerja.

Sebagai karyawan yang tergolong cekatan, Lani diangkat menjadi karyawan berstatus resmi atau karyawan tetap di pabrik rokok ini. Sebelum itu, ada tahapan karyawan pemula dan terampil. Satu tahun tiga bulan bekerja sebagai karyawan tetap, dia memutuskan keluar.

“Saya sering sakit. Mungkin karena kurang istirahat dan minum.”

“Jatah istirahat satu jam sering saya kurangi karena harus mengejar target. Kurang minum karena tempat minum jauh di belakang. Kalau bolak-balik ambil minum menghabiskan waktu. Kita ga boleh bawa apapun termasuk makanan atau minuman ke dalam pabrik, apalagi sampai ditaruh di atas meja kerja.”

“Sering juga sakit batuk. Bahan kimia di pabrik kan berbahaya.”

Dalam pekerjaannya sekarang, Lani masih berkutat dengan zat kimia. Terkandung dalam bahan pembersih yang digunakannya untuk membersihkan wastafel, kloset, anak tangga, dan lantai. Walau begitu, dia masih lebih sehat dibandingkan dengan dulu. Badannya yang setinggi 160 cm gempal. Kulitnya pun bersih. Selama bekerja dia menggelung rambut hitamnya. Sepulang kerja rambut yang lurus dibonding itu dia gerai bebas. Dia tergolong periang. Ketika berbicara sering diselingi tawa, termasuk ketika saya dan dia membahas soal kotoran dan kejorokan orang di toilet.

Bila dibandingkan dengan kerja di pabrik, gaji yang Lani terima sekarang lebih rendah. Itu pun masih di bawah standar minimal upah di Ibu Kota yang sebesar Rp1,29 juta. Tak ada pula asuransi kesehatan dan keanggotaan Jamsostek seperti dulu. Dari gaji Rp1 juta, dia menghidupi dirinya selama sebulan. Bersama Ari, seorang office girl di Menara Sudirman, dia menyewa kamar seharga Rp600.000 di satu kampung kumuh yang ada di kawasan niaga Sudirman, Jakarta Selatan. Meski begitu, setiap bulan dia masih bisa menyisihkan Rp200.000 untuk ditabung.

“Untuk masa depan.”

Pekerjaan cleaning service dia dapat melalui Nurhamid, pamannya yang bekerja sebagai security manager gedung. Tak ada paksaan. Dari sini dia berpikir bisa mendapatkan pengalaman baru.

“Paklik bilang ga jorok-jorok amat, kan di gedung.”

“Tadinya gimana gitu, tapi lama-lama dinikmati ya enjoy lah sampai sekarang. Yang penting kalau lagi makan jangan ingat pekerjaan.”

**Menara Sudirman dan Kemayoran, 22 Juni 2011.

*Lani mengundurkan diri dari PT Mitra Citra Mandira pada 4 Januari 2012.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s