Bertemu Jawaban dan Kantuk

Beberapa menit yang lalu saya ke belakang untuk buang air kecil. Hanya beberapa menit. Tapi lintasan kejadian selama beberapa menit itu membangkitkan kesadaran saya. Kesadaran lama yang muncul kembali.

Kebetulan selama beberapa menit tadi itu, saya memikirkan satu tema liputan. Satu tema yang akan saya garap buat majalah edisi Maret. Pemikiran ini spontan saja, tanpa direncanakan. Lalu tiba-tiba muncul banyak pertanyaan di kepala, yang bisa saya jadikan bahan jika calon nara sumber bersedia diwawancara. Pertanyaan-pertanyaan sederhana, tapi banyak dan mendetil, yang beberapa hari lalu sulit saya temukan.

Kejadian ini membawa saya pada kesadaran berikutnya. Selama ini ketika saya memikirkan sesuatu, jawaban itu akan datang dengan sendirinya, bisa dalam bentuk apapun, kapan pun. Paling tidak pada penghujung hari saya sudah dapatkan jawabannya. Tapi bukan berarti jawaban soal ujian bisa datang begitu saja. Mohon maaf buat yang lagi ujian, tidak bisa bantu banyak kalau saya tidak melihat dan mempelajari diktat kuliah anda.

Seperti kemarin, saya sedang dihantui satu proyek tulisan dan sosok utama dalam tulisan ini. Saat iseng-iseng mengusir kantuk di kantor, saya melihat-lihat tumpukan majalah di meja dekat rekan bagian sirkulasi. Di situ saya ‘temukan’ majalah yang menjadikan sosok tadi sebagai cover majalah. Majalah ini mengungkap sisi pribadi sosok yang menjadi incaran saya. Liputannya memang remeh temeh karena jenis majalahnya adalah majalah senang-senang, simbol perayaan kesuksesan orang dari segi materi. Meskipun tidak selalu menyampaikan kebenaran, paling tidak akses informasi majalah ini bisa dipercaya. Sosok ini menjadi cover majalah terbitan perusahaan miliknya. Penulis cerita adalah putri tertuanya, yang tak lain adalah pemimpin redaksi majalah tersebut. Kesimpulannya: ini liputan lebay, ketahuan banget dipaksakan untuk pencitraan. Tapi setidaknya memberikan informasi baru tentang sosok ini. Satu gagasan pun ditemukan.

Manuskrip celestine copyPemunculan jawaban dari pertanyaan ini diilustrasikan dengan baik oleh James Redfield dalam novelnya Celestine Prophecy, yang sekarang edisi terjemahannya “Manuskrip Celestine’ sedang saya baca ulang untuk ketiga kalinya. Buku ini saya temukan satu dekade yang lalu. Berbekal pengalaman yang berbeda membuat saya memiliki kesadaran yang berbeda ketika memaknai pesan dalam novel tersebut. Dalam novel tersebut, pertanyaan kehidupan akan mendatangkan jawaban apabila seseorang menyadari keberadaannya dengan baik. Bukan hanya sebagai manusia pada zaman sekarang, tapi juga sebagai makhluk yang mengalami evolusi sejak peradaban tercipta. Pertanyaan-pertanyaan pun perlu dilontarkan untuk menjadikan seseorang lebih sadar dalam proses evolusinya, yang juga melibatkan keselarasan dengan alam semesta.

Kesadaran lainnya adalah untuk memunculkan jawaban dari setiap pertanyaan itu, saya harus fokus terhadap satu masalah. Masalahnya, banyak sekali gagasan di dalam kepala saya, tapi belakangan saya kurang bisa fokus. Saya belum tahu persis penyebabnya, bisa jadi karena masalah jam tidur. Saya punya kebiasaan baru. Setiap malam, sekitar jam dua hingga jam empat pagi, saya bakal terjaga. Saya bisa bangun untuk melakukan beberapa hal seperti sholat malam, pernah juga bermeditasi dengan teknik olah pernapasan yang baru saya pelajari, membaca, chatting dengan teman yang juga punya kebiasaan bangun dini hari, atau memaksa diri untuk tidur lagi. Tetapi akibatnya setiap jam dua hingga empat sore saya akan terserang kantuk yang amat sangat. Kalau di rumah bisa langsung siesta, nah kalau di kantor…hmmm. Jika sudah begitu, fokus saya adalah mencari cara mengusir kantuk yang datang. Mulai dari jalan-jalan di sekitar kantor, berpindah meja (di kantor saya pakai laptop, jadi mudah untuk mobile), membuat kopi sambil ngemil. Tidak juga manjur. Sejauh ini yang paling lumayan mengusir kantuk justru menyeruput teh tubruk. Saya menikmati prosesnya, jalan ke pantry, masak air, menunggunya mendidih, mengecong teh. Malah dengan senang hati saya membuat gelas ekstra buat siapa saja yang mau, itu biasanya rekan saya Ardian Wibisono, yang seperti saya suka ngupi, ngeteh, ato menyeruput coklat panas. Sambil menunggu minuman bisa diseruput, kalau stok cemilan pribadi habis ya keliling cari cemilan gratis di meja tetangga😛

Saya berusaha mengingat kapan kebiasaan tidur saya ini berubah. Agaknya kira-kira sebulan sampai satu setengah bulan yang lalu. Tak ingat persis, apakah sepulang dari liburan pada 20-an November atau ketika kantor memberlakukan kebijakan jam kerja 9-6 (meski ini masih fleksibel) mulai awal Desember. Adik saya dan seorang sahabat meminta saya pergi konsultasi ke dokter karena masalah ini. Tetapi saya menganggap ini belum terlalu mengganggu. Jika waktu kantuk saya telah lewat, semisal setelah jam empat sore, saya menjadi terlalu aktif. Banyak ide bermunculan, banyak orang saya kontak, dan mulailah saya produktif menulis, hasilnya seperti yang anda baca sekarang ini. Jadi apakah ini mengganggu, saya masih akan menunggu sampai beberapa waktu ke depan jika ini mulai mempengaruhi kesehatan saya.

* Unggah pertama kali di facebook notes Selasa, 10 Januari 2012 pukul 17:47.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s